Sabtu, 25 Februari 2012

Indonesia Rumah Kita


Indonesia Rumah Kita
Muhammad Elvandi LC, WNI DI SAINT-ETIENNE, PRANCIS
Sumber : REPUBLIKA, 24 Februari 2012



Sesak dada saat mendengar umat Islam di Indonesia tergopoh-gopoh membuka medan-medan perang ideologi dan pemikiran. Sekitar 31 ribu orang menggalang dukungan lewat facebook, “Bubarkan FPI”, hingga gerakan media menjadi        gerakan turun ke jalan, yang kian memanas setelah penolakan FPI di Kalimantan Tengah. Dari sana, bergejolaklah FPI dan kadernya, dan para pendukungnya, ditambah dukungan mereka yang menolak liberalisme dengan slogan “Indonesia Tanpa Jaringan Islam Liberal”.

Insiden di Kalimantan Tengah pada akhirnya ditarik menjadi persoalan umat. Ia menjadi momentum untuk me mulai kembali skenario-skenario lama agar umat Islam terbesar di dunia ini selalu berbantah-bantahan dan bertikai.

Mengapa? Terlalu banyak yang mampu dilakukan Muslim Indonesia jika ia berjalan mulus dalam demokrasinya. Karena di dalam sistem ini, Muslim Indonesia mampu berpikir dan berbicara bebas. Mampu berdialog dan menabung solusi kebangsaan dari rekening setiap pemikiran entitas Muslim. Dalam tabungan itu, ide-ide terbaik umat disaring untuk kemudian digunakan demi tegaknya bangunan Indonesia. Jika bangunan itu tegak, banyak peran yang bisa di pikul Muslim Indonesia, bukan hanya di Asia Tenggara, melainkan menjadi model dunia untuk negara demokratis yang berpenduduk Muslim.

Tapi, siapa yang merancang skenario ini? Sepotong kisah dalam sejarah Islam mungkin bisa membantu. Umat Islam tetap kokoh dalam persatuannya sepeninggal Rasulullah dan pasca-Perang Riddah (melawan para peng khianat), hingga tahun-tahun terakhir pemerintahan Usman bin Affan. Muncullah seorang tokoh publik bernama Abdullah bin Saba keturunan Yahudi-Persia. Ia membangun basis massa yang merongrong pemerintahan sekaligus pembunuhan atas diri Usman.

Para pembunuh itu terdiri atas suku yang berbeda-beda dan umat Islam mengenal mereka. Namun, butuh waktu panjang untuk mengejar para pembunuh itu. Pascatragedi tersebut, meletuslah demonstrasi di mana-mana. Negara dalam kondisi krisis dan kepemimpinan Ali bin Abu Thalib pun belum stabil.

Dari sini, pilihan umat Islam ada dua. Menyelesaikan krisis dan stabilitas dalam negeri, baru mengejar dan menga dili pada pembunuh; atau mengadili terlebih dahulu dibandingkan menyelesaikan krisis. Risiko pilihan pertama, mengecewakan para loyalis Usman untuk menyelamatkan negara dari krisis. Sedangkan risiko kedua, runtuhnya negara demi simpati para loyalis Usman.

Kedua pendapat itu adalah hasil ijtihad manusia-manusia terbaik zaman itu. Ali dan mayoritas ulama saat itu memilih yang pertama, sedangkan Aisyah dan para pembesar sahabat, seperti Zubair, Thalhah, dan Muawiyah memilih yang kedua. Mereka semua berijtihad dengan niat suci, bukan mengejar kursi. Kelompok Aisyah mengambil langkah sendiri. Ia membangun pasukan untuk mengadili para pembunuh. Tapi, langkah inisiatif ini membuat krisis bertambah. Karena keluarga para pembunuh melindungi mereka dan pengejaran pasukan Aisyah terhadap pembunuh itu tidak sistematis, sehingga jatuhan korban.

Untuk menyelesaikan masalah, Ali membawa tentara untuk menghentikan Aisyah dari aksinya agar korban sipil yang bukan menjadi target tidak bertambah. Ali mengajak Aisyah berdiskusi untuk mencari jalan tengah. Ia mengutus Qa’qa bin Amr at-Tamimi. Di pihak lain, Aisyah, Thalhah, dan Zubair. Solusi yang ditawarkan Qa’qa hanya satu kata: at-Taskin (penghentian), hingga kondisi negara stabil. Tawaran ini diterima kelompok Aisyah. Dan malam itu, tidurlah kedua kelompok di tenda masing-masing dengan sangat tenang. Namun, siapa yang tidak tenang? Tentu, para perusuh dan pembunuh. Karena saat negara stabil, hukuman siap menanti mereka. Pihak Ali dan Aisyah akan ber satu dan bersamasama meringkusnya.

Apa yang mereka butuhkan? Hanya langkah yang sederhana. Membakar pemusuhan di kedua kelompok. Dibuatlah teamwork yang solid sekaligus menyebarkan fitnah sehingga akhirnya timbul pertikaian dalam Perang Jamal antara kelompok Ali melawan Aisyah.

Insiden penolakan FPI di Kalimantan Tengah sama sekali bukan esensi persoalan yang besar. Ia lazim terjadi dan merupakan tantangan dakwah biasa bagi organisasi Islam manapun. Tapi, membuat persoalan ini menjadi besar, mencipta blok-blok baru, menjadi ladang adu kekuatan dan suara, dan menjadi medan tarung dukungan dan massa, ini yang membahayakan.

Pihak-pihak yang tidak ingin melihat Indonesia bangkit menuju kursi peradabannya sebagai negara demokratis berpenduduk Muslim terbesar tidak akan membiarkan umat Islam rukun, apa lagi ber satu. Siapa pihak yang paling diuntungkan jika umat Islam di Indonesia terpecah, hingga menyeret disintegrasi bangsa? Kurang lebih merekalah yang memperbesar persoalan lokal menjadi perdebatan dan keributan nasional.

Umat Islam di Indonesia yang tetap ingin melihat negerinya tegak harus mampu melihat persoalan dengan komprehensif dan tidak terbawa arus perseteruan buatan. Sikap yang sangat di butuhkan di depan situasi ini adalah at-taskin (penghentian). Menghentikan saling memaki dan membuat permasa lahan menjadi besar.

Indonesia adalah rumah untuk semua, baik FPI, JIL, juga entitas Muslim lainnya, seperti Muhammadiyah, NU, ataupun Persis. Ini tidak berarti menyeragamkan semua organisasi Islam karena harus ada evaluasi bagi setiap organisasi Islam di Indonesia agar dakwahnya produktif untuk umat, saling menghargai, dan bukan saling menghakimi di media.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar