Sabtu, 28 September 2013

Hari Kontrasepsi Dunia

Hari Kontrasepsi Dunia
Sudibyo Alimoeso  ;    Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN, Sekretaris Umum Ikatan Peminat dan Ahli Demografi Indonesia
SUARA KARYA, 26 September 2013


Hampir dipastikan tidak banyak orang yang tahu kalau Kamis ini, 26 September adalah Hari Kontrasepsi Dunia (HKD). Peringatan yang dimulai sejak 2007 oleh masyarakat Uni Eropa, dilakukan di berbagai belahan dunia dengan sebutan World Contraceptive Day (WCD) mempunyai visi kepada dunia dimana setiap kehamilan adalah diinginkan. Melalui motto "masa depanmu, pilihanmu, kontrasepsimu" HKD 2013 mempunyai fokus untuk memberdayakan remaja/pemuda (youth) berpikir ke depan dan memasukkan kontrasepsi dalam perencanaan ke depan, dalam rangka menghindari kehamilan yang tidak direncanakan atau penyakit menular seksual (PMS).

Mengapa fokus pada pemuda (remaja)? Karena jumlah penduduk muda ini sangat besar. Pemuda/remaja yang didefinisikan PBB berumur 15-24 tahun ini jumlahnya sekitar 18 persen dari seluruh penduduk dunia atau sekitar 1,2 miliar remaja, 87 persen di antaranya tinggal di negara berkembang dan 62 persen remaja hidup di negara-negara Asia. Artinya, di negara berkembang remaja jumlahnya hampir separuh jumlah penduduk di negara tersebut. Remaja di negara Asia Pasifik dianggap tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi serta hak-hak reproduksi. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya kasus melanda remaja seperti perkosaan, diskriminasi dan pelecehan seksual, kekerasan dan eksploitasi, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), aborsi yang tidak aman serta infeksi penyakit menular termasuk HIV/AIDS.

Potret remaja di belahan dunia khususnya di Asia Selatan dan Asia Tenggara kurang mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual karena adanya anggapan bahwa belum diperlukan bahkan dianggap berbahaya kalau mereka tahu. Tidak mengherankan kalau angka kelahiran remaja masih cukup tinggi. Di Indonesia diperkirakan kelahiran sekitar 48 per seribu penduduk remaja (2012), di bandingkan dengan Malaysia sekitar 14 per 1.000 (2009), China 6,2 per 1.000 (2009) dan Vietnam 35 per 1.000 (2009). Di Indonesia kelahiran remaja di pedesaan hampir dua kali jika dibandingkan di daerah perkotaan yaitu 62 per 1.000 (desa) dan 35 per 1.000 (kota). Meskipun kontrasepsi diperkenalkan seumur program KB di Indonesia, namun masih banyak rumor dan kepercayaan tentang kontrasepsi termasuk soal kehamilan. Kalau minum pil, badan tambah gemuk, bulu tumbuh, menjadi mandul, atau badan berbau aneh. Bahkan tentang kehamilan sendiri banyak persepsi yang salah, seperti tidak akan hamil kalau dilakukan hubungan seksual sekali saja, atau meloncat-loncat sehabis berhubungan seksual. Mitos-mitos semacam inilah akhirnya membawa dampaknya banyaknya kasus KTD.

Hampir setiap wanita di Indonesia usia 15-49 tahun ber status kawin mengetahui paling sedikit satu alat metoda kontrasepsi (98 persen, SDKI 2012), sedangkan pengetahuan pria sedikit lebih rendah sekitar 94 persen. Metode yang paling banyak diketahui adalah suntik dan pil. Namun, ternyata pengetahuan tidak sejalan dengan praktek pemakaian kontrasepsi. Wanita kawin usia reproduksi yang aktif memakai kontrasepsi hanya 62 persen dimana 58 persen cara modern dan 4 persen cara tradisional.

Angka pemakaian kontrasepsi ini dapat dikatakan stagnan sejak 2002 (SDKI, 2002-03). Penggunaan metoda hormonal nampaknya paling disukai wanita kawin usia subur ini, dimana suntikan pada 1991 hanya 12 persen meningkat 32 persen 2012. Sementara metode IUD turun dari 13 persen (1991) menjadi 4 persen, sedangkan pil tetap menduduki peringkat kedua sekitar 14 persen sejak 1991 sampai sekarang. Namun sayang, tingkat putus pakai peserta KB di Indonesia masih cukup tinggi. Secara umum sebanyak 27 persen pemakai kontrasepsi berhenti memakai alat kontrasepsinya setelah satu tahun pakai. Tingkat putus pakai tertinggi adalah pil (41 persen), kondom (31 persen) dan suntik (25 persen). Inilah yang melatarbelakangi tema untuk HKD 2013 di Indonesia, adalah mengarahkan pemakaian kontrasepsi jangka panjang IUD dan Implant sebagai metoda alternatif menyongsong era SJSN 2014.

Banyak hal yang nampaknya harus dibenahi kalau melihat potret pemakai kontrasepsi. Pertama, pola pembinaan paska pelayanan. Secara teoritis, setiap alat/obat kontrasepsi hampir 100 persen dikatakan efektif. Namun, perilaku pemakai dan terkadang pemberi pelayanan menyebabkan alat/obat kontrasepsi tersebut menjadi kurang efektif.

Kedua, sebanyak 40 persen pemakai menyatakan tidak berniat lagi memakai kontrasepsi karena alasan fertilitas, yaitu berhubungan dengan menopause, abstinen, merasa tidak subur dan pasangan menginginkan punya anak lagi. Harus ada identifikasi sasaran harus lebih terarah dan bermakna bagi penurunan fertilitas. Ketiga, masih cukup banyak pasangan usia subur yang tidak ber-KB karena berhubungan dengan alat kontrasepsi. Sekitar 23 persen mereka menyatakan karena alasan kesehatan, efek samping, kurang akses dan biaya mahal. Keempat, tingkat kebutuhan ber-KB yang tidak terlayani masih cukup tinggi atau disebut unmet need. Diperkirakan sekitar 11 persen wanita kawin usia reproduksi yang ingin ber-KB masih belum terlayani karena berbagai sebab.

Pada akhirnya sebagian besar kehamilan akan berakhir dengan aborsi yang sangat membahayakan jiwa si ibu kalau dilakukan secara tidak aman. Kita harus melindungi mereka.
Bagaimana dengan remaja? Pertanyaan ini selalu menggelitik. Perdebatan tentang remaja yang secara seksual mereka sudah aktif apakah membutuhkan pelayanan kontrasepsi.

Intinya, peringatan HKD mungkin belum bisa menjawab persoalan ini. Tujuan setiap kehamilan adalah yang diinginkan masih jauh dari harapan. Mari kita sumbangkan pikiran dan tenaga menangani masalah ini, baik untuk pasangan usia subur maupun bagi para remaja. Impian kita pasti sama, setiap kehamilan adalah anugerah. Setiap kehamilan adalah harapan. Selanjutnya terserah anda! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar