Kamis, 30 Januari 2014

Pilihan Strategis Hapus Dua Tiongkok

             Pilihan Strategis Hapus Dua Tiongkok           

Rene L Pattiradjawane  ;   Wartawan Senior Kompas
KOMPAS,  29 Januari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
ADA perkembangan penting dalam hubungan Tiongkok-Taiwan, rencana pertemuan pejabat pemerintahan masing-masing di Nanjing, ibu kota Provinsi Jiangsu, Tiongkok timur. Menurut rencana, Ketua Dewan Urusan Masalah Daratan Tiongkok Wang Yu-chi akan bertemu dengan Ketua Kantor Urusan Taiwan Dewan Negara Tiongkok (kabinet) Zhang Zhijun dua pekan menjelang perayaan Cap Go Meh bulan depan.

Pertemuan yang pertama kali kedua pejabat negara ini jadi penting bukan hanya mencari solusi damai kedua pihak yang secara teknis masih dalam kondisi perang saudara, melainkan juga akan mengubah konstelasi geopolitik di kawasan Asia Timur. Tak disebutkan agenda pembahasan Wang-Zhang ini. Pihak Taiwan dalam percakapan dengan Kompas, pekan lalu, menyebutkan salah satunya adalah mencoba mencari modalitas bagi Presiden Taiwan Ma Ying-jeou untuk bisa berkunjung ke daratan Tiongkok di sela-sela pertemuan APEC akhir tahun ini.

Pemerintah Republik Tiongkok (nama lain untuk Taiwan) berdiri di pulau yang berseberangan dengan Provinsi Fujian, pesisir timur daratan Tiongkok, setelah kekalahan kelompok Kuomintang (Partai Nasionalis Tiongkok) yang melarikan diri ke Pulau Taiwan di bawah Generalisimo Chiang Kai-shek karena kekalahannya menghadapi kelompok komunis, Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang sekarang berkuasa.

Setidaknya ada dua alasan mengapa pertemuan Wang-Zhang ini dilakukan di daratan Tiongkok yang sebelumnya selalu terjadi di negara ketiga. Pertama, para penguasa Beijing lebih percaya untuk berbicara dengan para pejabat Kuomintang yang berkuasa dan berharap bisa melakukan terobosan sebelum dilaksanakannya pemilu presiden Taiwan tahun 2016.

Kedua, Beijing melakukan pilihan strategis menghadapi perubahan geopolitik di kawasan Asia Timur, khususnya atas klaim tumpang tindih Pulau Diaoyu (Taiwan menyebutnya Diaoyutai) dengan Jepang (menyebutnya Senkaku) yang semakin agresif dalam memproyeksikan kontribusi proaktif bagi perdamaian. Bagi Jepang, kebangkitan Tiongkok akan menjadi ancaman kalau tidak diimbangi dengan kekuatan militer yang memadai.

Bersamaan dengan ini, ada faktor lain yang ikut memengaruhi upaya perubahan geopolitik hubungan Tiongkok-Taiwan dalam kurun lima tahun ke depan. Pertama, pilihan strategis bagi Tiongkok-Taiwan, menyangkut kelangsungan pembangunan ekonomi kedua pihak, bersamaan dengan semakin melambatnya laju pertumbuhan pembangunan ekonomi keduanya dengan ketergantungan yang sangat tinggi.

Kedua, perlunya modifikasi hubungan kedua belah pihak dalam rangka mengurangi peranan AS yang masih terikat dengan Taiwan melalui Taiwan Relations Act 1979 setelah pemulihan hubungan Beijing-Washington (1978) dengan memberikan peluang intervensi apabila Taiwan diserang Beijing. Menghilangkan faktor ini akan mempersempit lingkup pengaruh kebijakan poros AS mengembangkan titik optimum penggelaran kekuatan militernya.

Ada pepatah Tionghoa berbunyi ”he ze liang li duo ze liang shang,” kerja sama menguntungkan keduanya, perkelahian akan melukai keduanya. Pilihan strategis yang dilakukan Presiden Tiongkok Xi Jinping, menyelesaikan persoalan Taiwan mengantisipasi perubahan drastis di dalam negeri melalui dukungan keuangan, sumber daya manusia, dan teknologi Taiwan, ataupun ancaman perubahan geopolitik lingkungan regional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar