Selasa, 27 Mei 2014

Spirit Mikraj dan Pemimpin Pengabdi

Spirit Mikraj dan Pemimpin Pengabdi

Ahmad Rofiq  ;   Guru Besar IAIN Walisongo, Sekretaris Umum MUI Jateng
SUARA MERDEKA,  26 Mei 2014


                                                      
TATKALA KPU mengumumkan hasil perolehan suara parpol dalam pileg, disusul pendaftaran capres-cawapres, bangsa Indonesia berada dalam bulan Rajab. Bulan mulia, dan Allah Swt melipatgandakan pahala amal ibadah manusia. Di dalamnya terdapat peristiwa suci, yakni perjalanan suprarasional seorang hamba Allah, dari Masjidil Haram Makkah ke Masjidil Aqsha Palestina dilanjutkan “dinaikkan” ke Sidratul Muntaha.

Rasulullah saw menerima perintah suci melalui Malaikat Jibril, di rumah. Jibril berkata,’’  “Tawaflah di Kakbah sebanyak tujuh kali. Engkau akan diperjalankan menuju langit dari Masjidil Aqsha”. Beberapa saat Beliau sudah di depan Kakbah dan segera tawaf. Baru saja selesai tawaf, tiba-tiba di hadapannya berdiri hewan yang disebut buraq. Kulitnya putih, tingginya melebihi keledai tapi lebih pendek dari bagal. Dinamakan buraq karena kecepatannya sejauh mata memandang, seperti kilat (barq). Beliau naik buraq diikuti Jibril di belakang menuju Masjidil Aqsha.

Dalam sekejap Beliau dan Jibril tiba di Masjidil Aqsha. Setibanya di masjid tersebut, Rasulullah saw terkejut karena di sana telah menunggu para nabi, dari Adam sampai Isa. Semua turun dari langit untuk menyambutnya. Para nabi menjadi makmum karena yang ditunjuk oleh Jibril menjadi imam adalah Muhammad. Setelah selesai shalat dua rakaat, Beliau menengok ke arah para nabi.

Setelah itu, Jibril menjamu dengan tiga buah cawan berisi air, khamar, dan susu. Pada saat yang sama, Muhammad mendengar “bisikan”, “Jika engkau memilih cawan berisi air, niscaya engkau akan tenggelam dan umatmu juga akan tenggelam. Jika engkau mengambil cawan berisi khamar, engkau akan tergoda, dan jika engkau memilih cawan berisi susu, engkau diberi petunjuk dan umatmu pun akan diberi petunjuk”.

Rasulullah saw mengikuti “nasihat” suara itu, namun Beliau tidak tahu mana cawan yang berisi susu. Berkat pertolongan Allah, Beliau mengambil cawan berisi susu, lalu meminumnya. Jibril pun menegaskan, “Engkau diberi petunjuk dan umatmu pun akan diberi petunjuk oleh Allah, wahai Muhammad”. Ini karena beliau memikirkan nasib umatnya, yang ingin diselamatkan dan diberi petunjuk oleh Allah.

Setelah itu, Rasulullah diperjalankan naik atau mikraj ke Sidratul Muntaha, setelah melalui langit pertama, bertemu Nabi Adam as, di langit kedua, bertemu Nabi Yahya bin Zakaria dan Isa bin Maryam. Di langit ketiga, berjumpa Nabi Yusuf as. Di langit keempat, bertemu Nabi Idris as. Di langit kelima, bertemu Nabi Harun bin Imran as. Di langit ke enam bertemu Nabi Musa bin Imran as.

Yang mengherankan, ketika Rasulullah ingin beranjak, Nabi Musa menangis. Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?’’ Musa menjawab, “Aku menangis karena pemuda yang diutus menjadi rasul sesudahku, umatnya lebih banyak yang masuk surga daripada umatku,” kata Musa.

Inti dari oleh-oleh perjalanan mikraj sampai di Sidratul Muntaha, adalah perintah shalat lima waktu dalam sehari semalam, setelah atas saran nabi Musa as, Beliau menawar beberapa kali, dari semula 50 waktu. Itulah wujud kasih sayang Allah kepada umat Muhammad.

Pelajaran Berharga

Shalat merupakan barometer ibadah seorang muslim-muslimah, dan itu yang kali pertama dihisab atau diaudit pada hari kiamat. Apabila shalatnya baik maka amal ibadah lainnya akan baik, begitu sebaliknya. Demikian Rasulullah saw menegaskan.

Shalat dianjurkan dilaksanakan berjamaah, dengan imbalan pahala 27 derajat. Dalam berjamaah, dibutuhkan imam yang memahami ilmu, memiliki kompetensi dalam ilmu fikih, rekam jejaknya baik dan hati-hati, tidak melakukan dosa-dosa kecil, apalagi dosa besar, serta sudah mantap integritas pribadinya (akbaru sinnan).

Tanggal 9 Juli 2014, rakyat Indonesia akan menentukan pemimpinnya. Dua pasangan calon sudah mendeklarasikan, Jokowi-Jusuf Kalla dan Prabowo-Hatta. Dalam perspektif politik Islam, memilih pemimpin adalah kewajiban. Bila semua warga yang mempunyai hak pilih tidak menggunakannya, alias golput maka semua menanggung “dosa” politik.

Dalam Islam, keberadaan pemimpin (imam) adalah conditio sine quanon atau suatu keniscayaan. Sedemikian pentingnya pemimpin bagi suatu negara dan masyarakat, Ibn Taimiyah mengatakan, “60 tahun di bawah pemimpin yang bobrok lebih baik dari satu malam tanpa pemimpin”. Kita masih ingat, saat-saat awal reformasi, tidak ada pemimpin legitimate maka penjarahan terjadi di mana-mana. Pasalnya saat seperti itu hukum tidak berlaku. Tapi kita tidak ingin memiliki pemimpin yang tidak adil dan korup, apalagi hanya memikirkan diri sendiri, kelompok, dan golongannya.

Seorang pemimpin adalah abdi rakyat. Seorang pemimpin adalah yang giliran minum dan makan terakhir, setelah semua warganya minum dan makan. Rasulullah saw memberi contoh ketika baru saja menempuh  hijrah beberapa hari dari Makkah memasuki Madinah, semula Yatsrib.

Beliau meminta seorang anak muda penggembala kambing agar diizinkan mengambil air susu untuk menghilangkan rasa haus Beliau dan rombongan. Setelah diijinkan penggembala, Beliau memerah sendiri susu kambing dan setiap mendapat satu gelas, diberikan kepada para sahabat. Setelah semua mendapatkannya, baru yang terakhir Beliau meminum susu kambing tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar