Sabtu, 26 Juli 2014

Idul Fitri dan Halalbihalal

                                        Idul Fitri dan Halalbihalal

A Mustofa Bisri ;   Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang
KOMPAS, 26 Juli 2014



NABI Muhammad SAW pernah ditanya istri Nabi, Aisyah, mengenai doa apa yang mesti dibaca saat Lailatul Qadar, Nabi menjawab, ”Allahumma innaka ’afuwwun tuhibbul ’afwa fa’fu ’annii.” Doa ini dalam bahasa Indonesia kira-kira, ”Ya, Allah, ya Tuhanku; sungguh Engkau Maha Pengampun, suka mengampuni, maka ampunilah aku.”

Maha Pengampun-Nya Allah dan kesukaan-Nya mengampuni tidak hanya tecermin dalam asma-asma-Nya seperti Al-Ghafuur, Al-Ghaffaar, dan Al-’Afwu, tetapi juga dapat diketahui melalui banyak firman-Nya di Al Quran dan sabda Rasul-Nya dalam hadis-hadis-Nya.

Salah satu firman-Nya bahkan menyeru hamba-hamba-Nya yang berdosa agar tidak berputus harapan akan pengampunan- Nya dan menegaskan bahwa Dia mengampuni dosa-dosa, semuanya (Q 39:53).

Bahkan, sedemikian sukanya Allah mengampuni sehingga Rasul-Nya—dalam hadis sahih bersumber dari sahabat Abu Hurairah dan riwayat imam Muslim—bersumpah bahwa seandainya ”kalian semua tidak ada yang berdosa, Allah SWT akan menghilangkan kalian dan menggantinya dengan kaum yang berdosa yang memohon ampun kepada Allah lalu Ia pun mengampuni mereka”.

Maka, kita melihat ”lembaga pengampunan” Allah yang dapat menghapuskan dosa, begitu banyak. Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menjadikan banyak amalan sebagai penghapus dosa, mulai dari istigfar, shalat, puasa, hingga berbuat baik lainnya, semuanya dapat menghapus dosa. Ini sangat kontras sekali dengan perangai ”khalifah”-Nya di bumi yang namanya manusia ini.

Manusia—setidaknya kebanyakan mereka—dari satu sisi suka berbuat kesalahan, di sisi lain gampang tersinggung dan sangat sulit memaafkan kesalahan.

Bahkan, banyak di antara mereka yang merasa ”dekat” dengan Tuhan pun tidak tampak lebih pemaaf daripada yang lain. Malah sering kali justru lebih terlihat sempit dada dan tengik.

Yang aneh, terhadap Allah yang begitu baik dan Maha Pengampun, kita ini begitu hati-hati. Namun, kepada sesama manusia yang tersinggung dan begitu sulit memaafkan, kita malah sering sembrono. Padahal, dibandingkan dengan dosa yang langsung berhubungan dengan Allah, kesalahan terhadap sesama manusia jauh lebih sulit menghapusnya. Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang mempunyai kesalahan kepada saudaranya sesama manusia sebelum saudaranya itu memaafkan.

Makna halalbihalal

Ada sebuah hadis sahih yang sungguh membuat mukmin yang sehat pikirannya akan merasa khawatir merenungkannya. Yaitu, hadis sahih—dari sahabat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim—tentang betapa tragisnya orang yang saat datang di hari kiamat membawa seabrek (pahala) amal, seperti shalat, puasa, dan zakat, sementara ketika hidup di dunia banyak berbuat kejahatan kepada sesama.

Digambarkan, nanti orang yang pernah dicacinya, orang yang pernah difitnahnya, yang pernah dimakan hartanya, yang pernah dilukainya, dan yang pernah dipukulnya akan beramai-ramai menggerogoti (pahala) amalnya yang banyak itu.

Bahkan, apabila (pahala) amalnya itu sudah habis dan masih ada orang yang pernah dizalimi dan belum terlunasi, dosa orang ini pun akan ditimpukkan kepadanya sebelum akhirnya dia dilempar ke neraka. Orang yang malang ini disebut Rasulullah SAW sebagai orang bangkrut yang sebenarnya.

Lihatlah, orang yang bangkrut itu disebutkan membawa seabrek (pahala) shalat, puasa, dan zakat. Berarti dari sisi ini, dia adalah orang yang taat beribadah. Namun, karena perangainya yang buruk terhadap sesama, justru hasil ibadahnya itu sirna.

Maka, bagi kaum beriman, berhati-hati dalam pergaulan itu sangat penting. Kaum beriman tidak hanya mengandalkan amal ibadahnya tanpa menjaga akhlak pergaulannya dengan sesama. Apalagi, karena bangga terhadap amal ibadahnya, lalu merendahkan dan menyepelekan sesamanya. Na’udzubillah min dzaalik.

Masih ada satu hadis sahih lagi yang senada dengan hadis di atas, yang menganjurkan kita segera meminta halal dari orang yang pernah kita zalimi (falyatahallalhu minhu), apakah itu berkenaan dengan kehormatannya atau yang lain.

Saya pikir, bertolak dari sinilah bermula istilah halalbihalal (menulisnya tidak dipisah-pisah). Anjuran Nabi untuk meminta halal dari saudara kita yang pernah kita zalimi tentunya berlaku juga bagi saudara kita.

Seperti kita ketahui, kata kita ini assembling dari bahasa Arab. Asalnya halaal-bi-halaal (dalam kamus Arab sendiri, tidak ditemukan entri halaal-bi-halaal ini). Jadi, ini murni rakitan bangsa Indonesia. Semula mempunyai makna harfiah halal dengan halal, kemudian menjadi: saling menghalalkan.

Begitulah tradisi silaturahmi (Arabnya: silaturahim), di hari raya Idul Fitri pun diisi dengan acara halalbihalal. Saling menghalalkan alias saling memaafkan. Halalbihalal-lah terutama mendorong orang bersemangat melakukan silaturahim di hari raya Idul Fitri. Sampai-sampai kemudian melahirkan tradisi lain yang kita sebut mudik.

Kalau tujuannya saling memaafkan, mengapa halalbihalal itu (hanya) dilakukan di hari raya Idul Fitri atau di bulan Syawal, tidak setiap saat?

Boleh jadi ini ada kaitannya dengan ”watak” bangsa kita yang sulit mengaku salah dan sulit memaafkan. Jadi, diperlukan timing yang tepat untuk saling meminta dan memberi maaf. Lalu, kapan itu? Nah, tidak ada saat yang lebih tepat melebihi saat setelah puasa Ramadhan.

Mengapa? Karena sesuai janji Rasulullah SAW, barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan semata-mata karena iman dan mencari pahala Allah, diampuni dosa-dosanya yang sudah-sudah.

Tentunya ini dosa-dosa yang berkaitan dengan Allah langsung. Orang yang tidak mempunyai dosa kepada Allah karena dosa-dosanya sudah diampuni, dadanya menjadi lapang. Mungkin ini bisa menjelaskan mengapa setelah usai puasa Ramadhan, orang- orang Islam menjadi terbuka, ringan meminta maaf, dan mudah memaafkan.

Maka, dosa-dosa berat yang diakibatkan kesembronoan dalam pergaulan hidup dengan sesama hamba Allah diharapkan dapat dengan mudah dilebur. Nah, kesempatan bersilaturahim di hari raya Idul Fitri ini jangan sampai kita lewatkan untuk berhalalbihalal, saling menghalalkan, dan saling memaafkan. Sehingga di Lebaran ini, leburlah semua dosa-dosa kita. Semoga.

Selamat Idul Fitri 1435 Hijriah. Mohon maaf lahir batin. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar