Kamis, 24 Juli 2014

Pengorbanan untuk Hayati Kemenangan

                   Pengorbanan untuk Hayati Kemenangan

Hadi Priyanto  ;   Penulis Buku Sosrokartono De Javansche Prins
SUARA MERDEKA, 22 Juli 2014

                                                                                                                       


"Buah dari kemenangan harus diwujudkan melalui pengabdian sepenuh hati kepada bangsa dan negara"

HARI ini, rakyat Indonesia mengetahui hasil pilpres yang diumumkan oleh KPU, selaku penyelenggara. Pilpres diikuti oleh hanya dua pasangan capres-cawapres sehingga denyut kontestasi tersebut terasa lebih keras. Bukan hanya pada tataran elite melainkan hingga tingkat akar rumput yang merasakannya. Kini tentu ada sisa kekecewaan, luka, bahkan sakit hati. Namun itu semua harus dimaknai sebagai jalan terjal  yang memang harus dilalui dalam belajar berdemokrasi.

Terlepas dari siapa yang memenangi Pilpres 2014, rekonsiliasi nasional merupakan jalan tengah terbaik. Untuk masa depan yang lebih baik, sebagaimana komitmen kedua capres-cawapres semasa berkampanye, kita tidak dapat hidup hanya dalam balutan pragmatisme politik yang membelenggu dalam sekat-sekat kepentingan dan mengabaikan kepentingan bangsa. Justru sebaliknya, kita harus mengedepankan kepentingan bangsa dan negara.

Menang tanpa ngasorake atau menang tanda merendahkan, ajaran yang diwariskan Raden Mas Pandji Sosrokartono, layak menjadi titian dan tuntunan. Kakak kandung Raden Adjeng Kartini tersebut adalah intelektual pertama Jawa yang mendapatkan gelar doctorandus in de Oostersche Talen dari Universitas Leiden Belanda. Ia menguasai 17 bahasa Barat dan 9 bahasa Timur. Ia juga salah satu inisiator berdirinya Perhimpunan Pemuda Indonesia di Belanda.

Setelah sukses bekerja sebagai wartawan perang dan juru bahasa tunggal Volken Bond (League of Nations) atau Liga Bangsa-Bangsa, ia memilih kembali ke Tanah Air dan mengembangkan spiritualitas Jawa. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh besar spiritual Indonesia. Bahkan Soekarno menyebutnya ’’Putra Indonesia yang Besar’’. Ia memang sangat dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan.

Ajaran Sosrokartono terdiri atas empat fase sikap ketika menghadapi proses pencapaian tujuan. Empat fase tersebut dikenal sebagai ’’Mustikaning Sabda’’, yaitu sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, dan menang tanpa ngasorake. Fase keempat menjalani kehidupan dengan berpegang pada prinsip menang tanpa ngesorake atau menang tanpa merendahkan bisa diartikan mencapai dan menanggapi kemenangan dengan jalan/cara benar.

Dengan demikian, pihak yang kalah tak akan merasa terzalimi dan tak merasa terhina karena pihak yang menang tidak menyombongkan diri dan tidak merendahkan pihak lain. Menang tanpa ngasorake diharapkan justru menumbuhkan spirit bahwa pihak yang kalah akan berhenti menjadi ancaman bagi yang pihak menang.

Memang penghayatan makna kemenangan membutuhkan pengorbanan. Ada kekalahan yang harus dilewati, ada masa sulit yang harus dilalui. Biasanya orang yang menang akan mencapai derajat mulia dan besar. Tetapi hal itu tidak akan pernah tercapai sebelum ada kekalahan dan kehinaan. Penghayatan akan nilai-nilai itu membuat seorang pemimpin menjadi sabar, rendah hati, pasrah, arif, dan bijaksana.

Seyogianya semua elemen perlu menyadari bahwa tidak akan pernah ada kebaikan tanpa keburukan, tidak ada yang pandai jika tidak ada yang bodoh, tidak ada yang menang bila tidak ada yang kalah sebagai fenomena kodrati. Dua fenomena yang tampaknya  bertentangan ini sebenarnya saling melengkapi satu sama lain. Menang dan kalah adalah fenomena kodrati. Adapun yang membedakan hanyalah posisi yang terlihat berseberangan.

Oleh sebab itu, manusia akan dapat merasakan arti kemenangan bila ia pernah mengalami kekalahan. Ia juga tidak bakal bisa menikmati kemuliaan bila tidak pernah merasakan kehinaan. Seseorang mustahil bisa merasakan besar sebelum pernah merasakan kecil.

Pengabdian Penuh

Dalam kaitannya dengan dua fenomena itu, Sosrokartono mengajarkan tentang sebuah prinsip dalam mencapai kemenangan, yaitu ’’menang tanpa mejahi tanpa nyakiti. Wenang tan ngrusak ayu, tan ngrusak adil, yen unggul sujud bhakti marang sesami’’. Artinya adalah ’’menang tanpa membunuh, tanpa menyakiti. Berkuasa tidak merusak kebaikan, tidak merusak keadilan. Jika unggul, sujud berbakti kepada sesama manusia’’.

Jadi, kemenangan yang dicapai dengan jalan damai tidak akan membuat lawan merasa  kalah, malu, terhina, dan direndahkan. Sementara buah kemenangan harus diwujudkan dengan pengabdian sepenuh hati kepada  bangsa dan negara. Bukan kemudian lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya, yang tentu akan  merusakkan nilai-nilai kebaikan dan keadilan.

Dengan demikian pemenang kontestasi harus  menyadari bahwa penghargaan terbesar dari sebuah proses demokrasi adalah mengembalikan kemenangan tersebut kepada pihak yang kalah. Selain kebaikan, di dalam diri manusia banyak nafsu yang berisiko membujuk ke arah jalan sesat. Karena itu menjadi kewajiban kita untuk mengalahkan dan menundukkan nafsu tersebut. Bukan melawannya melalui  kekerasan dan kekuasaan sebab hanya akan menimbulkan sakit hati, dendam, dan amarah. Lawanlah nafsu itu dengan kesabaran dan kelemahlembutan. Kita yakin sikap tulus bisa melunakkan dendam, amarah, dan kebencian. Menang tanpa ngasorake adalah kekuatan  jiwa yang menempatkan Nur Ilahi dalam proses mencapai  kemenangan sejati. Dengan memegang teguh ajaran menang tanpa ngasorake, berarti kita telah menggapai kemenangan sejati dari sebuah proses  kontestasi. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar