Jumat, 26 Desember 2014

Natal Pertama dan Rekonsiliasi Keluarga

                  Natal Pertama dan Rekonsiliasi Keluarga

Amanda Adiwijaya  ;   Konselor keluarga di Surabaya dan Jakarta
JAWA POS,  25 Desember 2014

                                                                                                                       


SECARA tradisional, di berbagai penjuru dunia, Natal dihayati sebagai pesta keluarga. Kebetulan, tema Natal Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia dan Konferensi Wali Gereja Indonesia pada 2014 adalah Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga.

Sayang, dalam banyak keluarga, termasuk keluarga kristiani di negeri ini, kerap Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang tidak bisa dijumpai lagi. Mengapa? Pasalnya, institusi paling kuno dalam sejarah, yakni keluarga, justru sedang menghadapi beragam masalah yang pelik. Keluarga justru berada dalam bahaya karena berbagai ancaman yang bertujuan menghancurkan sendi-sendi kehidupannya.

Berbagai Ancaman

Beberapa ancaman sungguh amat menonjol dan nyata terjadi, misalnya kekerasan, ketidaksetiaan, kejahatan seks pada anak, narkoba, dan sebagainya. Kekerasan memang menjadi pandemi global yang paling meresahkan. Paus Fransiskus, misalnya, menyesalkan kian maraknya kekerasan domestik seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bahkan, perkawinan secara kristiani pun tidak steril dari KDRT.

Ancaman lain yang cukup hebat adalah ketidaksetiaan kepada pasangan yang tecermin dari kian tingginya kasus perselingkuhan, prostitusi, dan hubungan seks berisiko lainnya. Padahal, hubungan seperti itu kian menyebarkan human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS). Yang menyedihkan, jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di kalangan ibu rumah tangga kian meningkat. Menyedihkan, seorang istri baik-baik, bahkan calon bayi yang belum mengenal dosa, harus mengidap HIV/AIDS karena sikap sembrono sang bapak yang notabene kepala keluarga.

Memang di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, tiap pria dengan mudah bisa mendapatkan akses ke hubungan seks berisiko. Demikian juga keberadaan internet, memunculkan pornografi yang bisa diakses di mana pun dan merangsang orang untuk mengkhianati pasangan serta keluarga. Transaksi seksual juga bisa dilakukan dengan mudah di dunia maya, misalnya lewat Facebook dan media sosial lain.

Sayang, dalam dunia nyata, kita juga melihat fenomena yang mengerikan ketika anak-anak harus menghadapi ancaman kejahatan seksual seperti yang dirasakan para korban di SDN Gubeng I, Surabaya, baru-baru ini. Ancaman lain bagi keluarga adalah narkoba. Sebab, menurut Badan Narkotika Nasional, sudah 4,2 juta warga kita yang menjadi korban. Bahkan, Wakil Rektor III Unhas Prof Dr Musakkir SH MH, guru besar fakultas hukum, malah ditangkap polisi karena diduga mengonsumsi narkoba. Jutaan orang, termasuk anak, juga dijadikan kurir narkoba.

Peristiwa guru besar nyabu itu sesungguhnya memberikan warning bahwa narkoba tidak bisa disepelekan. Sebab, narkoba berpotensi kuat menghancurkan bangsa, peradaban, dan keluarga kita.

Kita tahu, institusi keluarga adalah tempat persemaian nilai-nilai peradaban paling awal dan paling lama dalam sejarah. Nilai-nilai moralitas seperti baik dan buruk serta berbagai nilai luhur kemanusiaan bisa dipastikan kali pertama tersemai dalam keluarga.

Pesan Natal Pertama

Bahkan dalam konteks iman kristiani, Yang Mahatinggi dan Besar mau menjelma dan hadir di tengah keluarga kudus. Itu terjadi pada Natal pertama, ketika bayi Yesus lahir di kandang hewan di Bethlehem lewat rahim Bunda Maria dan dijaga oleh Yusuf atau Yosef, suami Maria.

Kelahiran dan kehadiran bayi Yesus sudah pasti menyucikan Maria sebagai ibu dan Yosef sebagai bapak keluarga. Keluarga yang sudah tersucikan itu membuat para tetangga juga ikut merasakan kehadiran Allah. Simak para gembala di Bethlehem pada malam Natal pertama. Mereka bergegas menjumpai keluarga Maria, Yusuf, dan kanak-kanak Yesus. Perjumpaan itu sungguh berkesan sehingga para gembala dan kawanannya memuliakan Allah (Luk 2:20).

Misteri inkarnasi Allah yang hadir dalam keluarga Maria dan Yusuf memang sulit dimengerti. Para imam dan ahli agama Yahudi pun tidak mengerti. Namun, para gembala yang sederhana, demikian orang-orang majusi yang notabene kafir atau tidak menganut agama Yahudi, juga bisa memahami misteri itu lewat perjalanan bintang.

Maka, di tengah berbagai ancaman kepada keluarga seperti yang sudah dibeberkan sebelumnya, mari keluarga-keluarga kristiani kembali menengok apa yang terjadi pada Natal pertama. Melalui keluarga Yusuf dan Maria, Allah mengutus Yesus ke dalam dunia yang begitu dikasihi-Nya. Dia datang semata-mata untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan dosa. Setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tetapi akan memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16-17).

Keluarga-keluarga yang mau kembali menengok Natal pertama sudah pasti akan diselamatkan dari beragam ancaman dan kembali dikuduskan sebagaimana keluarga Yusuf dan Maria. Maka, iman akan Juru Selamat harus kembali menjadi inspirasi bagi setiap keluarga. Jangan sampai Dia terusir dari hidup dan keluarga kita.

Semoga di Natal kali ini, Sang Juru Selamat kembali berkenan hadir dan lahir dalam keluarga kita, menjadi pusat hidup dan perisai dalam menghadapi beragam ancaman. Semoga Natal menjadi momentum bagi rekonsiliasi keluarga. Selamat Natal 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar