Rabu, 25 Maret 2015

Perjuangan Idealis Pragmatis Lee Kuan Yew

Perjuangan Idealis Pragmatis Lee Kuan Yew

Amelia Joan Liwe  ;  Alumnus University of Wisconsin-Madison, AS;
Dosen HI Universitas Pelita Harapan Dosen Luar Biasa Cultural Studies UI;
Associate Director Center for Southeast Asian Studies-Indonesia
MEDIA INDONESIA, 24 Maret 2015

                                                                                                                                     
                                                                                                                                                           

LEE Kuan Yew menghembuskan napasnya yang terakhir Senin (23/3) dini hari pada usia 91 tahun. Itu usia yang cukup panjang untuk menyaksikan Singapura melejit dari ketidakmungkinan menjadi sebuah kisah kesuksesan. Singapura menempati peringkat kedua Index Global Competitiveness 20142015 versi World Economy Forum. Prestasi yang menempatkan negara seluas kurang dari 800 km2 itu di atas kekuatan besar dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Jepang.

Lee Kuan Yew yang dibesarkan di bawah sistem kolonial Inggris di Singapura terkenal memiliki visi, intelektualitas, dan kegigihan yang luar biasa. Setelah melewati pendudukan Jepang atas Singapura, Lee Kuan Yew bertekad untuk tidak membiarkan Jepang dan Inggris memperlakukan tanah kelahirannya dengan semena-mena lagi.

Untuk tekad yang idealis itu, Lee Kuan Yew mengambil langkah yang lumayan pragmatis; menuntut ilmu setinggi-tingginya di Inggris. Beliau masuk London School of Economics pada 1946 kemudian melanjutkan di Cambridge sebelum meraih sarjana hukum pada 1949. Dengan latar belakang seperti itu, Lee Kuan Yew bisa saja memilih karier pribadi sebagai pengacara yang begitu menjanjikan. Akan tetapi, visinya untuk menciptakan sebuah Malaya yang merdeka tampaknya lebih kuat.

Pada 1950, dalam sebuah forum di London yang membahas persoalan Malaya, Lee Kuan Yew yang begitu prihatin dengan kemungkinan perpecahan Malaya pascapendudukan Inggris meramalkan bahwa Malaya bisa terjebak oleh konflik berkepanjangan seperti Palestina atau berkembang maju menjadi seperti Swiss di Eropa. Malaya bisa memilih menjadi komunis seperti Tiongkok atau tetap berada di bawah Commonwealth Inggris dan tetap menghidupi nilainilai bersama tanpa meninggalkan perjuangan antiimperialisme.

Hindari radikalisme

Lee Kuan Yew memilih untuk memperjuangkan Malaya merdeka tanpa paham komunisme. Akan tetapi, beliau tetap memegang teguh komitmen nilai masa itu; keadilan sosial yang seluas-luasnya, distribusi penghasilan dan perjuangan kemerdekaan. Lee Kuan Yew yakin bahwa nilai-nilai tersebut sangat diperlukan untuk menghindarkan Malaya dari radikalisme buta.

Kembali ke Semenanjung Melayu, Lee Kuan Yew terjun ke dalam politik dan berjuang untuk mencapai kemerdekaan dari Inggris dengan cara bergabung dengan Malaysia yang sudah merdeka pada 1957. Lee Kuan Yew sadar bahwa komunitas Tiongkok saat ini banyak yang cenderung ingin mengikuti garis politik komunis dari Tiongkok.Sementara itu, kelompok pribumi Melayu cenderung lebih eksklusif dan feodal. Akan tetapi, Lee Kuan Yew melihat potensi di balik masyarakat multikultural yang dimiliki Semenanjung Malaya.

Usaha Lee Kuan Yew membuahkan hasil ketika Singapura diterima untuk bergabung dengan Federasi Malaysia pada 1963. Pencapaian itu hanya bertahan dua tahun. Elite pribumi Malaysia terus meragukan kesetiaan Lee Kuan Yew dan pengikutnya. Kecurigaan antarras dan budaya makin runcing. Akhirnya, pada 1965, Singapura dikeluarkan dari Federasi Malaysia. Lee Kuan Yew terpukul. Beliau terisak melihat harapan dan usahanya gagal.

Kegigihan Lee Kuan Yew kembali diuji. Beliau bangkit kembali. Visinya membangun sebuah negara multikultural yang makmur diwujudkan dari situasi yang hampir tidak mungkin. Singapura begitu kecil, tanpa kekayaan alam. Untuk keperluan air bersih dan makanan, Singapura harus bergantung pada Malaysia dan Indonesia. Penduduk Singapura yang pada dasarnya terdiri dari para imigran dengan latar belakang budaya, agama, dan kepercayaan yang berbeda-beda tidak memiliki sejarah yang menyatukan. Sebagai sebuah bangsa, Singapura ialah ketidakmungkinan.

Di atas ketidakmungkinan itulah, Lee Kuan Yew membangun idealismenya; sebuah negara merdeka yang makmur dan sejahtera. Beliau kembali memulainya dengan langkah-langkah yang pragmatis seperti membangun sistem birokrasi yang efisien di bawah komandonya. Pemerintahan Lee Kuan Yew juga menerapkan sistem kuota ras dalam masyarakat untuk memastikan perimbangan dalam masyarakat. Tidak mengherankan, beliau juga identik dengan sistem otoriter.

Terlepas dari pro-kontra sistem otoriter, sosok Lee Kuan Yew tetap diingat dan dirayakan sebagai Bapak Singapura dan negarawan andal yang mengantar Singapura dari ketidakmungkinan menjadi sebuah negara unggulan, melampaui kemajuan dan kesejahteraan negara-negara tetangganya. Lee Kuan Yew paling tidak mengajarkan satu hal; idealisme harus diperjuangkan melalui kegigihan, rasionalitas, dan kerja keras. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar