Rabu, 22 April 2015

Arti Kartini di Masa Kini

Arti Kartini di Masa Kini

M Fuad Nasar  ;   Pemerhati Sosial
MEDIA INDONESIA, 21 April 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

“SEORANG ibu yang berhasil mencapai kedudukan tinggi dan terhormat dalam masyarakat hendaklah selamanya ingat dan sadar, ibu adalah ibu. Di sinilah bedanya gerakan wanita di Barat dengan gerakan wanita di Timur. Gerakan wanita di Barat cenderung melepaskan diri dari tanggung jawab dan kewajiban rumah tangga, yaitu gerakan yang mereka namakan Women Liberation Movement atau Women’s Lib, sedangkan gerakan wanita di Timur, di Indonesia, mencari sintesa antara kewajiban rumah tangga dan masyarakat.”

Demikian Prof Dr HA Mukti Ali, pelopor ilmu perbandingan agama dan mantan menteri agama, memberi analisis yang sangat penting dan menarik tentang emansipasi wanita. Saya memandang hal itu amat relevan direnungkan dalam momentum peringatan Hari Kartini.

Memperingati Hari Kartini 21 April yang merupakan tanggal lahir Raden Ajeng Kartini pada 1879 tentu tidak sekadar memperingati Kartini sebagai tokoh sejarah, tapi kita perlu mencermati ide-ide yang diperjuangkannya. 

Membicarakan RA Kartini berarti berbicara tentang masyarakat Indonesia pada zamannya. Kendati 90% bangsa Indonesia di masa itu pemeluk Islam, agama yang mendorong pendidikan dan kemajuan umatnya tanpa membedakan laki-laki dan perempuan, dalam zaman itu begitu kuat pengaruh adat istiadat yang tidak membolehkan anak perempuan bersekolah, tidak boleh bekerja di luar rumah atau menduduki jabatan di dalam masyarakat. Perempuan harus tunduk kepada adat istiadat dan tidak boleh punya kemauan untuk maju.

Perjuangan Kartini seabad yang lampau identik dengan perjuangan emansipasi wanita. Perkataan ‘emansipasi’ berasal dari bahasa Latin, emancipatio, artinya pembebasan dari suatu kungkungan atau ikatan. Walau demikian, cita-cita emansipasi Kartini bukanlah ‘westernisasi’ atau meniru begitu saja kebudayaan Barat.

Kartini berasal dari keluarga bangsawan. Ayahnya Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat. Kartini seorang wanita muslim yang menghendaki bangsanya maju, sebagaimana agama Islam mewajibkan umatnya untuk bisa membaca dan menulis.

Perjalanan hidup Kartini cukup singkat. Ia wafat pada 1904 dalam usia 25 tahun, empat hari setelah melahirkan. Setahun sebelum meninggal Kartini membuka Sekolah Gadis Jawa di Kabupaten Jepara. Meski tidak sempat berbuat banyak untuk kemajuan bangsa dan tanah air, Kartini mengemukakan ide-ide pembaharuan masyarakat yang melampaui zamannya melalui surat suratnya yang bersejarah.

Cita-citanya yang tinggi dituangkan dalam surat-suratnya kepada kenalan dan sahabatnya orang Belanda di luar negeri, seperti Tuan EC Abendanon, Ny MCE OvinkSoer, Zeehandelaar, Prof Dr GK Anton dan Ny Tuan HH von Kol, dan Ny HG de BooijBoissevain. Surat-surat Kartini diterbitkan di negeri Belanda pada 1911 oleh Mr JH Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh sastrawan pujangga baru Armjn Pane pada 1922 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Prof Dr HAMKA sebagaimana dikutip Solichin Salam pada bukunya, Kartini Dalam Sejarah Nasional Indonesia (1983), mengemukakan beberapa pandangan, `Saya melihat dalam salah satu suratnya Kartini, dia mengatakan tetap senang dengan Islam, dan tidak akan pindah memeluk agama lain. Jadi, meskipun di situ dalam karangannya jelas beliau itu tidak penuh pengetahuannya tentang Islam, tetapi menunjukkan bahwa beliau cinta kepada Islam’.

Lanjut Hamka, ‘Saya menulis dalam Pedoman Masyarakat, kalau Kartini masih hidup sekarang dan melihat wanita-wanita sekarang yang keBarat-baratan dengan pakaian-pakaiannya, dan hanya memakai kebaya setahun sekali waktu Hari Kartini. Apakah itu yang dikehendaki Kartini? Bukankah malah beliau akan mengumpat? Padahal Kartini justru menganjurkan agar wanita kita kembali pada kepribadian sendiri’.

Kartini bukan satu-satunya tokoh perempuan yang mengisi tempat penting dalam perjuangan bangsa dan kemajuan masyarakat. Sejarah mencatat nama dan jasa tokoh pejuang perempuan lainnya, seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Laksamana Keumalahayati, Rohana Kudus, Siti Manggopoh, Nyi Ageng Serang, Nyai Ahmad Dahlan, Dewi Sartika, Ny Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, Rahmah El Yunusiyyah, Rasuna Said, dan Rasimah Ismail.

Dari hari ke hari pada sebagian masyarakat kita merasakan sesuatu yang hilang dari kehidupan, yaitu keteladanan dan kehangatan cinta ibu dalam keluarga modern. Padahal, peranan ibu dalam membangun keluarga dan kehidupan masyarakat sangat penting, tidak saja pada masa lalu dan masa kini, tapi juga di masa mendatang. Ibu merupakan saka guru peradaban sehingga Nabi Muhammad SAW menyatakan, “Wanita ialah tiang negara. Bila wanitanya baik, baiklah negara dan bila wanitanya buruk, rusaklah negara.“ Sejalan dengan itu sangat beralasan Sayid Muhammad Shadieq Hasan Khan, cendekiawan muslim asal Pakistan, menunjukkan pegangan yang paling kuat bagi emansipasi wanita ialah agama Islam dan pokok-pokok ajarannya termaktub di dalam Quran dan hadis-hadis Nabi.

Semoga peringatan Hari Kartini menyadarkan kaum ibu pada tuntutan menyiapkan generasi penerus yang lebih baik. Surat Kartini kepada Ny Abendanon 21 Januari 1902 menyatakan, “Perempuan itu jadi saka guru peradaban. Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima didikan. Di haribaannyalah anak itu belajar merasa dan berpikir, berkata-kata, dan makin lama makin tahulah saya bahwa didikan yang mula-mula itu besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia di kemudian hari. Dan betapakah ibu bumiputera akan sanggup mendidik anaknya bila mereka sendiri tiada berpendidikan?“

Pertanyaan Kartini itu telah terjawab dengan kemajuan dunia pendidikan sekarang ini. Namun, di balik itu patut direnungkan, pendidikan dan kemajuan yang harus dicapai perempuan tidak boleh hanya karena semangat bersaing dan tidak ingin ketinggalan dari laki-laki.

Tingkat pendidikan perempuan yang semakin tinggi dan karier yang cemerlang haruslah berbanding lurus dengan kualitas keluarga dan kepribadian anak-anak yang dilahirkannya.

Pendidikan bagi perempuan haruslah berangkat dari filosofi dasar bahwa mendidik seorang perempuan berarti mendidik satu keluarga dan mendidik satu keluarga sama dengan membina satu generasi. Barangkali di situlah kemuliaan perjuangan Kartini bagi kemajuan negeri dan arti Kartini di masa kini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar