Senin, 13 Juli 2015

Krisis Ekonomi atau Sudden Shift

Krisis Ekonomi atau Sudden Shift

   Rhenald Kasali ;  Pendiri Rumah Perubahan @Rhenald_Kasali
                                                     KORAN SINDO, 09 Juli 2015    

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Bagi sebagian orang perlambatan ekonomi kali ini adalah krisis. Sementara bagi GoJek dan Uber, inilah era baru. Era sudden shift. Sebab pada era baru ini telah terjadi pemenggalan tren dan kita harus menangani masa depan dengan intuisi baru. Ceritanya begini. Produk-produk tradisional seberapa pun laku dan modernnya, kelak akan digantikan dengan produk-produk yang lebih baru atau cara model bisnisnya berbeda, lebih mudah dicapai, efisien, mampu mengolah data besar, dan seterusnya.

Persoalannya adalah siklus pergantian yang semakin lama menjadi semakin cepat saja. Kita tengah berada di 3/4 papan catur menuju benteng lawan sehingga pergerakan perubahan akibat teknologi ini cepat sekali. Kalau dulu kita memutar lagi rekaman dalam bentuk kaset. Kini alat pemutarnya, radio cassette sudah tidak diproduksi lagi. Sebagai gantinya, muncul CD.

Sayangnya, usia CD jauh lebih pendek lagi. Anak-anak kita menggantinya dengan musik digital. Dulu didengar melalui iPod buatan Apple. Kini cukup lewat smartphone. Soal musiknya, sebagian kecil dari mereka membelinya dari situs-situs resmi dan berbayar, sebagian lainnya mengunduh secara bebas dari berbagai sumber. Gratis.

Meski tidak berbayar, jangan salah, kualitas suaranya sangat OK. Jadi inilah era freemium. Meski free, kualitasnya premium. Para artis mulai malas menuntut para pembajak. Bahkan komedian Pandji Pragiwaksono malah membuat lagu yang judulnya: Bajak Lagu Ini. Dia tahu percuma melawan teknologi. Lagian cara cari uang selebriti sudah berubah, mulai dari dapur rekaman ke panggung hiburan berbayaran mahal.

Dari kaset ke CD, lalu musik digital, dari hak cipta malahan minta dibajak agar menjadi terkenal dan banyak undangan manggung. Ini adalah contoh tentang produk tradisional yang digusur produk modern atau business model baru. Di film pun begitu. Dari video cassette recorder, kemudian muncul laser disc yang ukurannya minta ampun, tapi kini anakanak kita lebih suka streaming berkat makin majunya teknologi internet.

Dulu kita menyimpan data pakai disket. Kemudian disket digantikan dengan USB flashdisk dan sebentar lagi USB bakal digantikan dengan cloud computing. Kita merasa lebih aman menyimpan data dalam ”awan virtual” ketimbang USB. Tetapi kini bukan cuma produk yang berbeda, melainkan business model. Ya, usaha boleh sama tapi kalau cara menjangkaunya berbeda, jangan harap kita bisa menangani persaingan dengan cara lama.

Lihat saja Seven Eleven menempuh cara berbeda dengan Indomaret, Uber berbeda dengan Bluebird taxi, dan Garuda Indonesia berbeda dengan Lion Air. Di Kenya, bank central melakukan langkah progresif lewat Mpessa yang membuat bank-bank konvensional kalang kabut. Uang terus diinovasi, membuat banyak cabang bank terpaksa dikurangi.

Karakter Perusak

Mengapa business model baru atau pendatang baru berpotensi menjadi perusak? Barangkali Anda pernah mengalami hal ini. USB hilang, tertinggal atau terselip entah di mana. Celaka dua belas kalau data di USB tadi adalah rahasia perusahaan. Lebih celaka lagi kalau di USB itu adalah bukti-bukti ”kenakalan” Anda.

Kalau ada yang iseng mengupload ke dunia maya, hidup Anda bakal berakhir. Kasusnya ada di mana-mana. Karena itu lebih aman menyimpannya di ”awan virtual”—meski ada juga yang bisa membobol datanya. Sejumlah artis pernah mengalaminya. Begitulah teknologi memang mempunyai karakter perusak, istilahnya disruptive. Ia membunuh yang lama, menggantinya dengan yang baru, yang lebih cepat, dan efisien.

Kita menerimanya dengan lapang dada. Justru diuntungkan oleh hadirnya produk-produk baru tadi. Jadi, contoh-contoh yang saya sebut tadi mungkin perubahan yang relatif mudah. Perubahan kadang membuat perasaan kita terbelah. Contoh paling aktual adalah tukang-tukang ojek pangkalan vs GoJek.

Jangan salah, GoJek bukan sekadar tukang ojek versi baru, melainkan ojek dengan business model yang berbeda dengan teknologi. Jadi yang menjadi lawan tukang-tukang ojek pangkalan tadi sesungguhnya adalah teknologi. Ini jelas bukan pertarungan seimbang. Para pemimpin juga terbelah. Beda gubernur atau wali kota, beda betul respons kebijakan yang diambilnya.

Di satu sisi kita diuntungkan oleh hadirnya GoJek, tapi di sisi lain tercekat karena melihat sebagian korbannya adalah orang-orang yang kita kenal cukup dekat. Tapi ini belum akhir dari pertarungan. Rekan saya dalam waktu dekat akan memasarkan kendaraan roda tiga yang tarifnya lebih murah dari ojek, karena berbahan bakar listrik amat murah dan dilengkapi dengan perangkat apps yang canggih pula. Bisa jadi para tukang ojek beralih ke kendaraan hemat energi yang harganya juga murah.

Kembali ke GoJek, kebetulan tak seberapa jauh dari rumah saya ada pangkalan ojek. Saya kenal dengan sebagian wajah dari tukang ojek tersebut. Beberapa di antaranya pernah saya mintai tolong. Saya kenal dengan tukang ojek yang oleh sesama koleganya dipanggil Pak Tua. Usianya sudah lanjut, tapi ia harus menjadi tukang ojek untuk menafkahi istri dan dua cucunya.

Anak-anaknya merantau entah ke mana. Lama tak ada kabarnya. Sayangnya, motor yang dikendarai sudah tua dan pajak STNK-nya sudah mati lama tak dibayar sehingga dia tak bisa masuk dalam jaringan GoJek. Saya kenal dengan Mang Gendut. Badannya subur. Ia menjadi tukang ojek dan bercita-cita tiga anaknya tak boleh bernasib sama dengan dirinya.

Ia ingin anak-anaknya menjadi sarjana. Masih banyak sosok seperti Pak Tua atau Mang Gendut di pangkalan-pangkalan ojek lain. Motornya tak mulus lagi dan kemampuannya memakai apps tidak ada. Mereka benar-benar gaptek.

Membayangkan nasib mereka, saya tiba-tiba jadi miris menyongsong era ASEAN Economic Community (AEC) yang resmi berlaku pada akhir tahun 2015. Sebab kelak yang menyerbu negara kita bukan hanya teknologi dan produk-produknya, tetapi juga modal raksasa dan serombongan manusianya. Apa jadinya?

Selalu Ada Jalan

Maaf, saya tak sedang risau dengan perusahaan-perusahaan besar kita. Saya yakin mereka akan sanggup bersaing di era AEC. Tapi, mereka pun risau karena tak paham bisnisnya sedang terancam gejala sudden shift. Tapi yang saya pikirkan adalah bagaimana dengan orang-orang kecil seperti Pak Tua dan Mang Gendut tadi. Namun, selalu ada jalan bagi mereka yang mau berubah.

Mungkin kendaraan roda tiga berbahan bakar listrik yang bisa dicicil selama dua tahun nanti bisa jadi jalan keluar. Selain investasinya ringan, aman, dan biaya bahan bakarnya juga murah sekali. Lagi pula sekali jalan bisa diisi tiga penumpang, anti cucuran hujan pula. Kalau baterainya habis bagaimana? Jangan takut, sekarang ada power bank.

Di Pasar-pasar tradisional kita sejak lama posisinya terus tergeser oleh pusat-pusat belanja modern dengan Hypermarket. Bagaimana mungkin pasar tradisional yang berantakan, kumuh, becek, dan berbau, bisa bersaing dengan pusat belanja modern atau Hypermarket yang rapi, bersih, sejuk ber-AC, dan tidak berbau? Di beberapa kawasan perumahan, juga di kota-kota satelit, kita dengan mudah menemukan cara-cara lain yang berbeda.

Pedagang sayur kini sudah lebih mampu mencicil mobil dan mereka pakai aplikasi teknologi pula. Datang bila dibutuhkan, terima order pula. Di sana kita masih bisa menemukan kehangatan. Ada tegur sapa. Kita kenal penjualnya, dan penjualnya pun mengenal kita. Kalau hari itu Anda lupa membawa dompet, tenang saja. Anda bisa membayarnya besok atau lusa.

Kalau Anda repot membawa begitu banyak barang belanjaan, jangan takut. Penjualnya siap mengantar. Gratis. Kehangatan dan kedekatan semacam ini tak bakal bisa kita jumpai di pusat-pusat perbelanjaan modern atau Hypermarket. Jadi, selalu ada jalan kalau kita mau berubah. Jangan terlalu cemas Pak Tua dan Mang Gendut. Sebentar lagi mereka akan menemukan jalan keluar.

Tetapi perubahan bagi pelaku usaha lama hanya dipandang sebagai krisis ekonomi, apalagi mundurnya penjualan terjadi ramai-ramai. Padahal yang benar di luar sana, dampak teknologi telah menimbulkan pergeseran. Nama kerennya, sudden shift. Bergeser tiba-tiba.

Pergi ke tetangga sebelah. Pada era ini model usaha ”ikan-ikan teri” bisa menjepit model usaha ”ikan kakap”. Karakter perubahan itu menyangkut 3S: Surprise, Speed, dan Sudden Shift.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar