Minggu, 20 September 2015

Ketuhanan dalam Kehutanan

Ketuhanan dalam Kehutanan

Candra Malik  ;  Praktisi Tasawuf
                                               KORAN TEMPO, 19 September 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Tuhan dan hutan ialah satu-kesatuan yang utuh. Di Indonesia, tema tentang Tuhan mendapat perhatian lebih, tapi tema hutan masih kurang. Padahal hutan adalah kekayaan luar biasa negeri ini yang diperhitungkan oleh bangsa dan negara lain. Hutan belum menjadi isu sentral, apalagi ketika pemerintah sekarang menjadikan kemaritiman sebagai tema utama mendefinisikan ulang identitas dan integritas keindonesiaan kita.

Sufi besar Jalaluddin Rumi menulis kitab Fihi Ma Fihi (Di Dalamnya Apa yang di Dalamnya) tentang segala sesuatu sesungguhnya menyatu, yang relevan menunjukkan hubungan antara Tuhan dan hutan. Di dalamnya apa yang di dalamnya: di dalam benih, ada pohon; di dalam pohon, ada benih. Satu dan lainnya tidak terpisahkan. Tak ada benih, tak ada pohon. Tak ada pohon, tak ada benih. Benih dari pohon. Pohon dari benih. Benih adalah pohon, pohon adalah benih. Pohon adalah kehidupan, Tuhan pun meliputinya. Allah Maha Hidup menghidupkan, mematikan, dan menghidupkan segala sesuatu, termasuk pohon. Pepohonan, dalam jumlah yang besar dan ragam yang beraneka, yang lalu kita sebut sebagai hutan, tentu melambangkan pula kehadiran Tuhan. Ketuhanan dalam kehutanan adalah kesadaran hayati manusia sebagai khalifah fil ardli.

Pohon mengajarkan kepada manusia sejumlah hal luar biasa. Bahwa untuk hidup, kita harus mengakar, menunjang dari mulai batang, dahan, ranting, daun, bunga, sampai buah. Akar pula yang menyerap air, yang merupakan sumber kehidupan. Bahwa untuk hidup, kita harus kokoh laksana batang pokok, menjaga dahan-ranting tanpa mudah lapuk dan patah. Bahwa untuk hidup, kita menyerap energi semesta seperti dedaunan terhadap sinar matahari. Bahwa untuk hidup, kita memberi yang terbaik sebagaimana bunga. Tak hanya elok dipandang, tapi juga sedap dihirup aromanya. Bahwa untuk hidup, seperti pohon, kita pada akhirnya berbuah, yang di dalamnya terkandung biji yang tak lain adalah benih bagi kehidupan berikutnya. Dari pohon kita belajar pula kapan pun kita pasti kembali ke tanah. Bisa karena diterpa angin dan gugur, bisa pula roboh karena usia.

Pohon mengajarkan pula untuk bersikap hidup percaya kepada kebaikan semesta. Berdiri tanpa kaki, tercipta untuk tidak melangkah, pun tidak berlari, tapi rezeki tidak akan tertukar kepada yang tidak berhak, pun demikian sesungguhnya konsep ini berlaku sama bagi setiap makhluk. Jika kemudian pepohonan ditebang sembarangan dan tidak ada upaya menanam kembali pohon-pohon baru, sesungguhnya kita berbuat bodoh memadamkan pelita hidup.

Betapa Tuhan dalam Al-Quran pun menggunakan pohon sebagai kiasan, yaitu jika kayu dan daun dari pohon di seluruh penjuru bumi dijadikan kertasnya-dan lautan sebagai tinta-maka niscaya tidak cukup untuk menuliskan Ilmu Allah. Dan, sabda Nabi Muhammad SAW, ilmu adalah cahaya. Jika pohon-pohon ditebang sembarangan, dan pohon-pohon baru tidak ditanam, sesungguhnya kita memadamkan pijar kehidupan. Jika surga digambarkan dalam ayat-ayat suci sebagai taman-taman nan sejuk, dengan berbagai buah-buahan dan pepohonan rindang, sungai yang mengalir jernih dengan bebatuan yang selalu tepercik kesegaran air, bukit-bukit yang indah, burung-burung yang bebas beterbangan dan hinggap di mana pun, bukankah itu semua lukisan Tuhan tentang keagungan hutan?

Air adalah sumber kehidupan, dan tak ada bantahan tentang itu. Pohon telah melakukan segala hal untuk menjadi rumah bagi empat anasir terpenting jagat besar, yaitu angin, air, api, dan tanah. Pohon menghasilkan O2 (oksigen) pada siang hari dan CO2 (karbondioksida) pada malam hari. Akar pohon menghunjam tanah, batang pokok menjulang ke arah di mana sinar matahari terpancar, tak berbeda dengan falsafah di mana bumi dipijak, di sanalah langit dijunjung. Laut, sungai, danau, bendungan, waduk, dan wadah maupun aliran apa pun namanya yang menghimpun air, tidak akan pernah menafikan pohon sebagai kantong penyimpanan air yang sangat diandalkan.

Pohon bukan hanya paru-paru dunia, tapi juga segala organ vital lain. Lihatlah, betapa dari pohon, kita mengambil sangat banyak penunjang kehidupan. Akar, batang, dahan, ranting, daun, bunga, dan buah telah kita jadikan apa saja sesuai dengan kebutuhan manusia. Hutan telah memberi kita teramat banyak, tapi kita ternyata meminta lebih banyak lagi. Celakanya, kita kurang memberi kepada hutan, atau bahkan tidak memberi apa pun untuk melestarikannya. Pada mulanya, hutan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kini, hutan terasa semakin jauh dan manusia seperti sengaja membentangkan jarak terhadapnya. Jika pun ada yang merambah hutan, lebih banyak yang berbuat merusak serusak-rusaknya.

Orang-orang pedalaman yang masih hidup dengan hutan sebagai habitat kini semakin tidak nyaman, bahkan semakin lama semakin terusir dari rumahnya sendiri. Orang-orang kota tak lagi melihat hutan selain dari layar televisi, terutama ketika asap telah mengepung kota sejak kebakaran hutan. Lihatlah hutan di Tanah Air; setiap tahun entah terbakar, entah dibakar. Sebagai manusia bertuhan dan beragama, kita ternyata tidak berbuat cukup untuk menyelamatkan hutan. Masyarakat kita kini terpisah dari hutan, atau bahkan memisahkan diri. Padahal nun di dalam hutan, tersimpan anugerah dan keajaiban.

Di manakah posisi kita yang bertuhan dan beragama ini dalam merawat semesta?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar