Senin, 25 Januari 2016

Radikal

Radikal

Putu Setia  ;  Pengarang; Wartawan Senior Tempo
                                               KORAN TEMPO, 23 Januari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kata yang paling banyak disebut belakangan ini adalah radikal, selain teror. Kedua kata ini memiliki benang merah. Teror dilakukan sekelompok orang untuk melampiaskan nafsu radikal, memaksakan suatu paham dengan cara-cara kekerasan. Kata radikal juga kerap digandengkan dengan agama. Mungkin ajaran agama yang tidak ditafsirkan dengan benar, banyak menyimpan peluru untuk melakukan radikalisme.

Saya teringat Nurcholish Madjid. Pada akhir 1990-an, saya banyak berbincang dengan Cak Nur soal kekerasan dan gesekan yang berlatar agama. Kasusnya bisa sepele. Misalnya, anak muda Hindu melakukan aksi demo memprotes seseorang yang menyebut "umat Hindu memuja patung" dan "Hindu agama bumi". Juga di kalangan muslim yang mengkafirkan sesamanya hanya karena, misalnya, ikut ritual "labuh laut" dengan sesajian. Apa kata Cak Nur? "Kita masih beragama secara puber," kata yang tak bisa saya lupakan.

Penjelasan Cak Nur, puber itu adalah masa di mana kita sedang dimabuk semangat untuk belajar namun belum banyak ilmu yang dikuasai sudah melakukan aksi pembenaran dengan memaksakan kehendak. Dulu umat Hindu diam dituduh memuja patung atau beragama bumi, mungkin juga tak tahu bagaimana membela. Ketika kitab Weda banyak diterjemahkan dan umat mulai belajar, mereka paham siapa yang dipuja dan mereka tahu siapa penerima wahyu dalam Hindu. Begitu pula sebagian muslim masih tetap melaksanakan "budaya warisan leluhur" karena agama tak bisa meniadakan budaya.

Teringat Cak Nur, saya jadi bertanya, kapankah masa puber itu berlalu? Justru sekarang malah bertambah—mungkin ini puber kedua atau ketiga. Benih kekerasan dan gesekan itu justru tumbuh melahirkan tindakan radikal.

Sejumlah orang merobohkan patung wayang di taman-taman Kota Purwakarta. Alasannya, menjunjung tinggi nilai Islam, tak sepantasnya Purwakarta di-hindu-kan dengan membuat gapura Hindu, hiasan janur Hindu, dan seterusnya. Sementara itu, Bupati Purwakarta Haji Dedi Mulyadi mengatakan "wayang adalah budaya yang melekat dalam tradisi masyarakat, ada beberapa macam wayang di Sunda: wayang golek, wayang cepak, wayang kulit Cirebon, wayang ajen, wayang catur."

Bupati Dedi benar, wayang bukan Hindu. Bukankah Wali Songo menyebarkan Islam di Jawa memakai wayang? Yang bernapas Hindu adalah Mahabharata. Semar, Bagong, Petruk, Gareng, Cepot, dan Dawala tak ada kaitan dengan Hindu. Juga janur, umum untuk hiasan saat hajatan di Jawa. Di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, ada tradisi yang disebut Wisuda Waranggono, penobatan lahirnya seniman tayub. Ritual itu dengan cara "siraman" di Sendang Bektiharjo dan puncaknya "pelantikan" oleh Bupati Tuban. Ritual ini sangat Hindu—kalau yang dimaksudkan Hindu budaya Bali—padahal mereka semuanya beragama Islam. Tak ada yang resah.

Di Bali muncul "gerakan baru", sekelompok orang mulai resah atas ritual yang penuh sesajen yang mereka sebut "bertentangan dengan Weda". Ada tanda-tanda terjadi gesekan, apalagi bermunculan sejenis aliran atau sekte dalam Hindu. Saya tak tahu apakah ini masih masa puber dan akankah nanti muncul radikalisme di kalangan Hindu Nusantara?

"Kita kurang piknik", ini sindiran khas di media sosial. Betul, termasuk "piknik ke masa lalu". Sunan Kudus tidak merobohkan kuil Hindu dan malah dijadikan menara masjid. Sebagai bentuk penghormatan kepada "leluhurnya", Sunan berjanji tak akan menyembelih sapi di Kudus—janji yang (uniknya) sampai sekarang diwarisi masyarakat. Mungkin radikalisme bisa pula sedikit diredam kalau kita mau belajar dari masa lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar