Senin, 22 Februari 2016

Waspada Ancaman Gugat Cerai...!

Waspada Ancaman Gugat Cerai...!

Sawitri Supardi Sadarjoen ;   Penulis Kolom “PSIKOLOGI” Kompas Minggu
                                                     KOMPAS, 21 Februari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

”Apabila kondisi ini tidak berubah, saya tidak yakin akan dapat tinggal bersama lagi denganmu”. Ungkapan ultimatum tersebut menggambarkan bahwa pasangan kita sudah tidak mampu bertahan dalam ikatan perkawinan dengan diri kita.

Ketahuilah bahwa orang akan memberikan ancaman cerai atau memutuskan hubungan dengan kita pasti disertai kemarahan yang tak terkira yang dirasakan oleh pasangan kita. Kekecewaan demi kekecewaan akan perlakuan yang kita lakukan sudah sampai pada titik jenuh dan tidak dapat diperbaiki lagi.

Dalam situasi yang seperti ini, perceraian sudah bukan suatu upaya hukuman, upaya menakut-nakuti, atau membuat kita terperangah, tetapi yakinilah bahwa kalimat tersebut merebak dalam benak pasangan kita karena pasangan kita sudah tidak mampu menahan rangkaian ketegangan akibat konflik berlanjut. Konflik yang ditandai oleh sikap kita yang ”menulikan diri”, ”tak peduli”, serta ”bergeming” oleh rangkaian keluhan, tangisan tertahan dan omelan, bahkan sesekali makian yang berlarut-larut.

Kasus:

Suatu sore datanglah seorang laki-laki, sebut saja L (42 tahun), dengan tampilan kusut masai, tampak pusing tujuh keliling, dan serta-merta mengungkapkan, ”Istri saya mau gugat cerai, saya tidak mau kehilangan istri, kehilangan anak-anak, saya menyesal telah mengabaikan mereka selama ini.” ”Saya tidak mau kehilangan istri dan anak-anak, saya masih sayang kepada istri saya,” ujarnya sambil air mata merebak pada kedua matanya.

Kemudian mulailah L menceritakan betapa istrinya M (40 tahun) tidak melayani dirinya sebagai suami, bahkan makan-minum pun menyediakan sendiri, sementara hubungan intim selama sembilan tahun pernikahan bisa dihitung dengan jari. Kemudian beberapa waktu terakhir ini istri tidak terlampau memperhatikan kedua anak mereka, ia sering pergi tanpa pamit dan menitipkan anak-anak kepada mertuanya.

Secara sepintas L bercerita bahwa dirinya pernah terlibat perselingkuhan yang tidak mendalam, hanya berkenalan dan berbincang-bincang, dan karena konsekuensi dari pekerjaannya, L terkadang harus membawa tamu bosnya ke karaoke untuk membuat tamu bos terhibur. Dalam kesempatan ini, ia sedikit terbawa arus minum-minuman keras dan beberapa kali pulang kerja malam hari dalam keadaan mabuk.

Selang beberapa waktu pada sore yang sama, M, istri L, menyusul L untuk berkonsultasi, dan M langsung bercerita bahwa dua tahun setelah pernikahan suami, dengan alasan pekerjaan, L mulai pulang kantor sekitar pukul 22.00 hingga 23.00, dan sering M mencari tahu ke mana L pergi, menelepon L, tetapi tidak pernah dijawab. Ditanya di mana pun, tak jelas jawabannya. Sementara anak sulung mereka sering sakit sehingga sering M harus mengantar sendiri ke dokter, bahkan ke rumah sakit malam hari karena tiba-tiba suhu badan anak pertama itu panas hingga 40 derajat.

M sering mengeluh atas perlakuan L dan berulang kali meminta kesediaan L untuk pulang lebih awal dari kantor, membicarakan dan mendiskusikan masalah perkawinan mereka, tetapi biasanya L tutup mulut. L tak peduli, bahkan terkadang justru membentak M, sambil serentak pergi dari rumah.

Sampai akhirnya sejak satu tahun terakhir ini M mengambil keputusan untuk mulai mencari kesibukan dan kesenangan sendiri. Hati M semakin tertutup dan sikap tak acuh terhadap suami semakin berkembang serta-merta M belajar mengabaikan perasaannya terhadap L.

Rasa cinta M hilang sudah. Kehidupan suami-istri hanya terungkap sekadar tinggal satu atap tanpa komunikasi dan masing-masing mengurus urusan sendiri. Pengasuhan anak-anak diserahkan kepada kakek-nenek dari pihak M. Sampai satu minggu yang lalu, M dengan berani menyatakan dengan tegas, ”Pak, aku sudah siap untuk gugat cerai.”

L terkejut mendengar ungkapan M, dia tidak menyangka bahwa M yang dikenal sebagai perempuan yang lemah ternyata dengan tegas bisa mengambil keputusan gugat cerai. Dengan tegas pula M menyatakan sudah tertutup hatinya buat L walaupun L mengiba-iba agar M memikirkan kembali keputusannya, sambil serta-merta L mulai memperhatikan kedua anaknya, mengajak bermain, membelikan berbagai mainan.

Tentu saja anak-anak senang mendapat perhatian ayahnya. Namun, sejauh itu, perbaikan perilaku L sebagai ayah sama sekali tidak menyentuh hati M dan M berpendapat, sudah selayaknya, sebagai ayah, L memperhatikan anak-anaknya. Namun, untuk permintaan L agar M mengurungkan niat gugat cerai, secara tegas, M bergeming, tidak peduli pada rayuan L dan tetap bersikukuh untuk gugat cerai.

Diskusi:

Dari kasus di atas kita dapat menyimak beberapa hal:

1. Jika istri mulai menunjukkan sikap tak mengacuhkan apa pun perilaku suami, apalagi sudah menunjukkan gejala pencarian kebahagiaan sendiri, berarti rasa percaya diri istri mulai bangkit.

2. Pertanda pertama tersebut hendaknya mulai disimak oleh pihak suami untuk memulai introspeksi diri dan bertanya kepada diri seberapa berharganya makna keluarga yang ia miliki saat ini. Dengarlah keluhan istri dan carilah waktu yang tepat untuk mendiskusikan peluang membina kembali keutuhan hidup dan masa depan berkeluarga.

3. Kasihilah istri dan anak-anak kembali.

4. Maka, kekerasan hati istri untuk gugat cerai tidak akan terjadi dan ketahuilah bahwa penyesalan tidak ada gunanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar