Selasa, 13 Juni 2017

Agama Minus Etika Kemanusiaan

Agama Minus Etika Kemanusiaan
Abdul Waid ;  Cendekiawan Muda Muslim;
Dosen Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen
                                                         KOMPAS, 12 Juni 2017




                                                           
Mengapa agama-agama dapat diterima secara global oleh khalayak di muka bumi?" tanya Emmanuel K Twesigye, seorang orientalis kontemporer asal Amerika, dalam pengantar bukunya, Religion & Ethics for a New Age: Evolutionist Approach (University Press of America, 2001).

Pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Emmanuel. Menurut dia, semua agama dapat diterima dan bertahan di dunia hingga saat ini tiada lain karena setiap sosok pembawa agama-agama itu mengajarkan etika kemanusiaan. Dan, dalam setiap norma ajaran yang disampaikan kepada pengikutnya juga selalu menonjolkan etika kemanusiaan.

Muhammad SAW, misalnya, tegas mengatakan bahwa dia diutus ke dunia adalah semata-mata untuk menyempurnakan etika (baca: akhlak). Yesus, demikian pun, yang diyakini sebagai utusan sekaligus Tuhan bagi umat Kristiani juga menekankan pentingnya etika kemanusiaan pada sesama manusia. Kedua sosok tersebut menaburkan perilaku-perilaku manusiawi kepada siapa saja tanpa pandang dulu. Penghormatan setinggi-tingginya dicurahkan kepada setiap kawan dan lawan.

Andai saja para pembawa agama itu hanya mengajarkan hukum dan ibadah transendental tanpa etika kemanusiaan yang membumi, barangkali agama di dunia sekadar jadi alienasi dan candu sebagaimana yang dituduhkan oleh Karl Marx, seorang pengusung ideologi komunisme dan kapitalisme dalam dunia perekonomian kelahiran Jerman.

Lebih jauh lagi, jika itu yang terjadi, agama akan ditolak umat manusia sejak awal masa-masa turunnya ke dunia.

Di atas norma hukum

Di sinilah mengapa banyak kalangan pemuka agama, khususnya para ulama sufi, yang mengatakan bahwa etika kemanusiaan adalah jauh melampaui norma-norma hukum. Mereka sering kali "menabrak" norma-norma hukum demi tujuan-tujuan kemanusiaan.

Oleh karena itu, mereka selalu hidup bertenggang rasa dengan sesama, tolong-menolong, dan menghindar dari sikap ketidakadilan, kesombongan, keangkuhan, serta segala yang bisa menyakiti perasaan orang lain, apa pun golongan dan agamanya. Bahkan, pada hewan sekalipun, etika kemanusiaan semacam itu juga mereka terapkan.

Salah satu tokoh berpengaruh di dunia Islam yang menampilkan pola keberagamaan yang berpijak pada etika kemanusiaan yang sangat tinggi ialah Najamuddin at-Tufi (1259-1318). Sebagaimana yang ditegaskan dalam banyak karyanya, ulama besar yang lahir di Baghdad, Irak, itu mengatakan, jika norma hukum bertentangan dengan aspek-aspek kemanusiaan, maka norma hukum itu harus mengalah. Sebab, tujuan utama setiap norma hukum adalah kemanusiaan (kemaslahatan universal).

Sayangnya, beberapa abad setelah meninggalnya para pembawa agama utusan Tuhan, agama acap kali dipisahkan dari etika kemanusiaan. Konsep agama mulai berubah 180 derajat dari semula yang lebih mengedepankan etika kemanusiaan daripada norma hukum kini justru menjadi sebaliknya. Orang beragama mudah lari dari kasih sayang kepada sesama, tolong-menolong, saling menghargai hanya karena alasan norma hukum yang terkesan dipaksakan.

Contoh sederhananya adalah wacana sikap penolakan shalat jenazah bagi warga yang berbeda pilihan politik. Apa pun alasannya, bagaimanapun norma hukum agamanya, menolak menshalatkan jenazah karena berbeda pandangan politik adalah sikap yang tidak sesuai dengan etika kemanusiaan yang menjadi misi utama agama. Setiap orang bisa berdebat dan mengajukan argumentasi apakah menolak untuk menshalatkan jenazah-jenazah tertentu dibenarkan oleh norma agama atau tidak.

Tetapi, jika dilihat dari aspek etika kemanusiaan yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kerukunan, sikap semacam itu jelas tidak bisa dibenarkan. Apalagi, jika sikap itu menimbulkan konflik di tengah masyarakat, penulis berani mengatakan hal itu bertentangan dengan ruh agama (spirit of religion).

Oleh karena itu, dalam kehidupan beragama, kita tidak patut meninggalkan etika kemanusiaan. Agama yang pada dasarnya mengatur umat manusia menuju kehidupan harmoni tidak bisa lepas dari etika kemanusiaan yang tinggi. Melihat begitu pentingnya peran etika kemanusiaan bagi setiap pemeluk agama, terutama bagi tatanan kerukunan antargolongan agama, maka sangatlah penting bagi kita untuk selalu menyandarkan pola keberagamaan kita pada etika kemanusiaan, bukan pada dogma yang otoritatif.

Hal itu sebagai upaya untuk keluar dari berbagai persoalan yang mengimpit kehidupan bangsa ini. Pasalnya, etika kemanusiaan selalu selaras dan searah dengan terwujudnya ketenteraman. Tetapi, norma hukum- apalagi egoisme penganut agama-yang ditegakkan dengan mengesampingkan etika kemanusiaan selalu meruntuhkan bangunan ketenteraman masyarakat. ●