Sabtu, 17 Juni 2017

Kontekstualisasi Laku Puasa Kekinian

Kontekstualisasi Laku Puasa Kekinian
Muhammad Itsbatun Najih ;   Alumnus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta;
Tinggal di Kudus
                                                     DETIKNEWS, 15 Juni 2017



                                                           
Denyut Ramadan menembus imaji kebinekaan sekaligus persatuan. Menghilirkan semangat kebangsaan untuk kemudian menyesap dalam spiritualitas makna toleransi. Di Kudus, misalnya, tempat tinggal penulis, dan saya yakin juga di banyak tempat lain, ada hal menarik terkait fakta kebhinekaan yang menemukan relevansinya saat Ramadan tiba. Beberapa gereja di Kudus membentangkan spanduk ucapan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Spanduk ucapan Selamat Idul Fitri juga bakal terpasang di gereja kala umat muslim merayakan Lebaran.

Fenomena itu setidaknya bagi saya terasa terpatri dalam sanubari sebagai kesejukan dalam hubungan antarumat beragama, meski mungkin saja pemandangan seperti itu di kota-kota besar macam Jakarta dengan masyarakat plural sudah teranggap lazim. Tapi, pun demikian, spanduk adalah simbol yang menggambarkan ikatan kebhinekaan sebagai sesama anak Indonesia yang kiranya berinti pesan agar jangan sampai renggang hanya gara-gara sentimen identitas keagamaan. Dari sini pula, demarkasi minoritas-mayoritas menjadi luruh.

Kegaduhan perihal identitas kesukuan dan keagamaan belakangan ini hendaknya bisa diredam. Ramadan menjadi penggemblengan jiwa dan raga umat muslim untuk meneguhkan kembali upayanya sebagai tamsil ideal bagaimana agama (Islam) bisa selaras berjalan dengan Indonesia yang beraneka ragam suku dan keyakinan. Mengendalikan amarah dan sak-wasangka, dan memasung informasi menyesatkan merupakan bagian penting kontekstualisasi laku puasa kekinian.

Celakanya, rupa-rupa sengkarut antaranak bangsa menyulut dalam batas paling sensitif berupa agama dan etnis kesukuan. Namun, kita masih bersyukur hingga saat ini --dan mendamba hingga kapan pun-- kebinekaan dan persatuan kita relatif terus terjaga dalam narasi NKRI. Dan, Ramadan menjadi momen yang tepat untuk meluruhkan segala anasir-anasir sumbang degradasi bangsa, untuk kembali saling berinstrospeksi.

Ramadan bak wadah kontemplasi untuk sejenak mendefinisikan kembali jatidiri sebagai seorang muslim; tentang kontribusi apa yang sudah disumbangkan demi merawat persatuan Indonesia. Kita pun diingatkan tentang Proklamasi 17 Agustus 1945 yang "kebetulan" jatuh saat bulan suci seperti sekarang.

Meski didominasi kalangan muslim, tapi pelopor kemerdekaan bangsa ini, dan soal rumusan Pancasila, juga disokong oleh kalangan lain. Pun, membubung tinggi solidaritas mereka yang sudah dianggap sebagai anak Nusantara ketika dukungan kemerdekaan datang dari etnis Arab maupun Tionghoa. Mereka, para pendiri Republik ini, mengejawantahkan bahwa perbedaan agama serta asal-muasal justru menjadi kekuatan besar dalam merajut kemerdekaan dan persatuan.

Ramadan tahun 1945 merupakan memori kolektif ikhtiar merangkai segenap kebinekaan yang lantas menubuh dalam satu kesatuan tanah dan air bernama Indonesia yang majemuk. Spiritnya terasa hingga kini. Di kota besar macam Jakarta yang dihuni oleh pluralitas masyarakat, Ramadan mampu memberikan warna lain tentang hubungan persaudaraan lintas agama.

Banyak instansi pemerintah maupun swasta rutin mengagendakan buka puasa bersama. Kita tahu, buka puasa bersama nyatanya tidak melulu disesaki oleh kalangan muslim. Tapi, ikut disemarakkan pula oleh kalangan nonmuslim. Selebrasi buka puasa macam demikian itu merupakan potret ideal membangun persatuan dalam bingkai kebinekaan.

Ramadan juga kerap dikaitkan (atau diributkan?) dengan urusan domain ritus muslim itu sendiri. Kita memaklumi seakan ada dua kelompok yang terkesan "kurang kompak". Satu kelompok menghendaki penetapan Ramadan dengan cukup menggunakan hisab dan bertarawih delapan rekaat. Sementara kelompok lain, penetapannya harus menggunakan hisab dan rukyah, serta bertarawih dua puluh rekaat.

Namun, "perdebatan" abadi itu kian hari tampaknya semakin ditinggalkan. Semestinya, merajut kerukunan antarsesama pemeluk agama (Islam) tidak kalah penting. Ada banyak ormas keagamaan (Islam) yang meskipun berbeda pandangan politik dan ritus ibadah, seyogyanya masing-masing tetap mengedepankan keterbukaan diri sehingga mampu meminimalisasi syak-wasangka, untuk kemudian meneguhkan kembali Islam yang berwajah damai.

Apalagi, kini muslim Indonesia sedang menghadapi tantangan berupa aksi-aksi radikalisme beragama yang semakin masif menunjukkan eksistensinya. Namun, kala Ramadan seperti sekarang, ada pemandangan menarik yang selalu menjadi semacam ritus, yakni pasanan; sebutan untuk kegiatan pengajian/kajian agama dari literatur keislaman klasik yang tidak hanya didominasi kalangan pelajar Islam/santri. Melainkan, juga didominasi masyarakat umum.

Kemenarikan itu terletak pada rata-rata kitab/materi yang dikaji lebih berurusan soal etika dan laku; perihal bagaimana menjadi manusia berbudi. Tema sama juga kita saksikan di pelbagai tayangan Ramadan di televisi. Bila dicermati, tema yang diangkat lebih banyak berbicara mengenai urusan perilaku/akhlak ketimbang babakan fikih; bagaimana menjadi manusia yang dapat memanusiakan diri dan liyan.

Walhasil, kiranya memang seperti itulah wajah ideal agama dihadirkan. Tema-tema dalam Al Quran nyatanya juga lebih banyak berkutat soal akhlak dan etika dibanding berbicara ritus ibadah. Oleh karena itu, kita berharap, kajian agama dan gemblengan jiwa selama Ramadan dari kegiatan seperti pasanan dan acara dakwah di layar kaca bakal mampu melahirkan pribadi-pribadi muslim yang tidak lagi gampang menguar kata kafir, bidah, syirik kepada saudara seagamanya.

Sekaligus bertumbuh rasa penghormatan kepada pemeluk agama lain sebagai bagian dari merawat kebinekaan dalam bingkai persatuan Indonesia. Nabi Muhammad SAW beserta kaum muslim sudah mencontohkannya kala bersama komunitas lintas agama membangun Madinah sebagai rumah bersama. ●