Kamis, 15 Juni 2017

Mari Merawat Bopeng Sendiri

Mari Merawat Bopeng Sendiri
Rakhmad Hidayatulloh Permana ;   Tinggal di Subang;
Kegiatan sehari-harinya bermain dengan ikan-ikan air tawar
                                                     DETIKNEWS, 14 Juni 2017




                                                           
Petang itu, adzan maghrib berkumandang dari pelantang mushala dekat rumah. Saya pun bergegas memenuhi panggilan salat itu. Sebenarnya, lebih sering karena disuruh Ibu. Karena, kalau salat di rumah, Ibu saya akan mengomel. Ganjaran salat berjamaah itu 27 derajat, begitu tukasnya bila saya enggan salat berjamaah.

Saya pun pergi memakai sarung dan sepasang kasut butut. Sesampainya di sana, saya duduk di bagian shaf tengah. Duduk sembari mendengarkan pujian salawat yang mengalun begitu indah. Di samping saya, ada teman yang biasanya mengajak saya bercanda.

Namun, kali ini ia tampak diam dan mendengarkan pujian saja. Tak lama kemudian, ia terlihat—dari gerak-gerik matanya—mengedarkan pandangan ke area shaf depan. Saya melihat ia begitu fokus dengan orang yang sedang menjalankan salat di shaf depan pojok kanan. Tiba-tiba, ia membisiki saya:

"Orang itu salat apa ya?"
"Salat sunnah qobliyah, mungkin."
"Kamu ini gimana? Salat magrib kan nggak ada sunnah qobliyah-nya."
"Oh, iya. Mungkin itu salat tahiyatul masjid."
"Lho, kamu salah lagi. Kita kan sedang di mushala. Masak ada salat tahiyatul mushala. Apa itu bukan bid'ah?
"Apa kita masih perlu membahas ini?"
"Aku hanya penasaran."

Tak lama kemudian, iqamah berkumandang. Kami maju di shaf paling depan. Teman saya itu, tanpa sengaja, justru berdiri bersandingan dengan si orang yang ia obrolkan tadi. Dari gelagatnya, ia nampak canggung. Saya hanya bisa tersenyum dalam hati.

Setelah pulang dari mushala, saya mengajaknya mengobrol lagi.
"Kamu, masih penasaran orang tadi salat apa?"
"Iya. Aku penasaran. Siapa sih orang itu? Orang mana ya?"
"Kamu juga tadi nampaknya tidak khusyuk salatnya. Kamu canggung berdampingan dengan orang tadi."
"Lho, kamu kok tahu? Berarti kamu memperhatikanku juga?"
"Iya, sedari takbiratul ikhram sampai salam kamu memang terlihat canggung. Seperti ada yang ditahan."
"Kalau gitu, kamu juga nggak khusyuk."

Saya langsung menepuk jidat dan tertawa. Ternyata, toh saya sama saja. Sama-sama suka memperhatikan ibadah orang lain.

Obrolan saya dengan teman saya itu sudah cukup lampau. Kira-kira terjadi ketika saya masih duduk di bangku SMP. Namun, kelakuan orang-orang di jagad maya mengingatkan saya kembali pada peristiwa itu.

Beberapa hari yang lalu, ada seorang kawan yang membagikan sebuah tautan artikel di dinding Facebook-nya. Judul artikelnya konyol sekali: Inilah Kesalahan-Kesalahan Cara Wudhu dan Shalat Jokowi. Saya penasaran dan membukanya. Dan benar, artikel berisi analisis tajam yang menguliti semua kesalahan Jokowi ketika berwudhu sampai ketika ia menjadi imam salat.

Sangat detail sekali. Sang penulis artikel sudah hampir mirip dengan para komentator sepak bola yang teliti dalam mendedah strategi permainan masing-masing tim. Setelah membacanya, saya hanya bisa tertawa. Ternyata, ada juga orang-orang yang kelewat rajin melakukan hal seperti itu. Padahal, menurut saya, ribut dengan urusan ibadah orang lain tentu saja nir-faedah. Sama sekali tak mendatangkan manfaat apapun. Yang ada, justru kita bisa lalai dengan cara ibadah sendiri.

Saya bisa mengatakan itu, setelah teringat dengan peristiwa kecil yang saya ceritakan di awal. Tapi, jelas saya paham bahwa artikel itu memang ditulis dengan nada kebencian kepada Pak Presiden. Para pembenci itu bisa begitu fasih mengomentari cara ibadah Presiden Jokowi. Dari perkara cara basuhan wudhu sampai kaidah makhorijul huruf bacaan salatnya.

Orang-orang tersebut, seperti sudah khatam mempelajari kitab-kitab babon tentang ilmu fiqh, seperti Fathul Qarib atau Hasyiyah Baijuri yang tebal dan berjilid-jilid. Padahal, mendengar namanya saja barangkali belum. Namun, mereka seperti telah menasbihkan dirinya sebagai ulama ushul fiqh yang paling sempurna semua laku ubudiyah-nya.

Dan kita tahu, orang-orang seperti itu sangat mudah kita temukan di jagad dunia maya. Coba ketik saja kata kunci "salat jokowi" di kolom pencarian Google. Maka, Anda akan menemukan banyak artikel yang saya maksud itu. Silakan membacanya, barangkali memang berfaedah.

Saya juga jadi teringat kembali pada salah satu cerpen KH. Mustofa Bisri—yang akrab disapa Gus Mus. Cerpen itu berjudul Gus Djakfar. Menurut saya, cerpen itu adalah sebuah bentuk oto-kritik bagi siapa pun yang gemar mengurusi amal ibadah orang lain.

Ceritanya tentang seorang kiai kampung bernama Gus Djakfar. Ia memiliki sebuah karomah unik, yaitu mampu menebak orang. Mulai dari tebakan tentang ajal kematian sampai rezekinya. Bahkan, ia juga bisa tahu orang itu masuk calon surga atau calon neraka. Karena kemampuannya inilah ia menjadi begitu disegani di wilayah pesantrennya.

Namun, semuanya berubah ketika ia berguru kepada seorang ulama misterius bernama Kiai Tawakkal. Di pesantren Kiai Tawakkal, Gus Djakfar sibuk mengaji kitab yang juga biasa diajarkan di pesantrennya. Juga tentu saja sibuk berdzikir di sela-sela waktu.

Gus Djakfar mengalami perubahan sikap setelah melihat tanda "ahli neraka" pada kening Kiai Tawakkal. Ia merasa gelisah dengan penerawangannya itu. Rasanya tak mungkin, seorang kiai alim bisa masuk neraka, kecuali ia punya sisi lain dalam hidupnya, pikir Gus Djakfar. Dari kegelisahan itu, akhirnya Gus Djakfar mencoba menelisik sisi lain kehidupan sang Kiai Tawakkal.

Ia pun akhirnya mendapati jawabannya saat memergoki Kiai Tawakkal sedang berada di sebuah warung yang sarat akan nuansa kemesuman. Di warung itu, Kiai Tawakkal terlihat sedang asyik mengobrol dengan para perempuan menor. Ternyata, inilah alasan Gus Djakfar melihat tanda ahli neraka itu.

Tapi, sebenarnya, itu adalah ujian bagi Gus Djakfar. Ketika pulang berbarengan dengan sang kiai, Gus Djakfar mengalami kejadian aneh. Sang kiai ternyata bisa berjalan di air. Pada sampai titik inilah, Gus Djakfar sadar bahwa sebenarnya ia memang sedang diuji oleh sang kiai sufi itu. Kiai Tawakkal mengeluarkan kata-kata yang benar-benar menggendor relung hatinya:

"Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda "Ahli Neraka" di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena, pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia memasukkan diriku ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak?"

Dan, agaknya pesan sang kiai itu tak berlaku hanya bagi Gus Djakfar saja, melainkan juga bagi kita. Menurut penuturan Gus Mus, cerpen itu memang ia tulis untuk mengingatkan kembali kita pada pesan masyur Sayidina Umar Bin Khattab RA: "Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab."

Selama orang-orang yang gemar menghisab amal orang lain masih banyak, maka selama itulah pesan Sayidina Umar akan tetap relevan. Barangkali akan jadi klise, tapi tak akan pernah usang. Sampai tak ada lagi orang yang kerepotan menghisab amal ibadah orang lain.

Setelah membaca cerpen itu, saya pun akhirnya selalu berusaha untuk menahan diri untuk tidak melabeli siapapun. Karena saya tahu, manusia adalah makhluk yang selalu punya bopeng. Sekecil apapun bopeng itu. Kiranya, mencela bopeng orang lain justru membuat kita lupa merawat bopeng sendiri.

Inilah zaman ketika meneliti cacat pada muka orang lain menjadi teramat mudah. Sedangkan, meneliti cacat wajah sendiri sungguh sukar dilakukan. Saya dan Anda tentu tak mau seperti itu. Sebab, kita juga tak akan sudi bila amal kita dihisab oleh siapapun—kecuali oleh Tuhan. Maka, menghisab diri adalah sebuah upaya penyelamatan diri dari kubangan-kubangan kelalaian. Jadi, sudahkah menghisab diri hari ini?  ●