Senin, 19 Juni 2017

Memaknai Perjalanan Tagore ke Jawa

Memaknai Perjalanan Tagore ke Jawa
Iwan Pranoto  ;   Guru Besar Matematika, ITB;
Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI New Delhi, India
                                                         KOMPAS, 17 Juni 2017




                                                           
"Pada malam sebelum keberangkatan ke Jawa, saya berdoa agar pikiran saya dibebaskan dari semua rasa bangga dan bersahaja dengan pelajaran abadi dari kebenaran".   Rabindranath Tagore


Setelah mengunjungi Singapura dan Malaya hampir sebulan, penerima Nobel Sastra, Rabindranath Tagore, melakukan perjalanan ke Sumatera, Jawa, dan Bali, 17 Agustus hingga 30 September 1927.

Dalam kunjungan itu, Tagore berencana berziarah ke gagasan India di luar batasan geografi maupun politik. Pujangga sekaligus pelopor pendidikan nasional India ini menjumpai kelanjutan gagasan India dan juga beberapa tokoh kebangsaan Indonesia. Perlu dicatat, dalam tulisan ini, umumnya kata India diartikan sebagai gagasan, bukan negara ataupun bangsa, kecuali dinyatakan lain secara khusus.

Perjumpaan gagasan

"Sejarah India ialah sejarah gagasan, yang seperti buah masak merekah memencarkan biji benihnya beterbangan terserak ke berbagai tempat jauh, bertumbuh subur mencapai kemegahannya," ujar Tagore. Karena itu, katanya, jejak kelanjutan gagasan India yang sebenarnya akan ditemukan di luar subdaratan India.

Setelah menyeberangi daratan dan lautan, benih gagasan India bertumbuh bukan sebagai salinan, tetapi jadi kelanjutan gagasan baru yang mewujud berbeda serta megah. Hal ini diamati dan diungkapkan Tagore saat di Bali. Dalam satu suratnya, dia menulis bahwa Hindu dalam bentuk murninya tak ditemukan di Bali, tetapi dirasakan dalam wujud yang lain. Kemudian, walau memang sudah diketahui bahwa kisah Mahabharata memiliki banyak versi dan ditulis dalam waktu berabad- abad, Tagore mencatat Mahabharata yang ditemukannya bertumbuh di Jawa dan Bali berbeda dan belum pernah ia jumpai sebelumnya di subdaratan India. Demikian juga keagungan Borobudur dan Prambanan yang berada di luar daratan India.

Walau Tagore berhasil menemukan gagasan "kelanjutan India" di Jawa dan Bali, tetapi yang ditemui suatu "kelanjutan" yang berbeda dan tak selengkap dengan gambaran di pikirannya sebelumnya. Tagore memang merasakan gagasan India yang telah dengan indah berpadu, tumbuh berkembang, dan menyatu dengan kebudayaan Jawa dan Bali. Namun, dalam harapannya, peradaban Indonesia juga melibatkan dan menafsirkan dunia "lain", termasuk budaya Barat modern.

Dari situ, pandangannya seperti mengingatkan kesenadaan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Walau keduanya nasionalis, menjunjung budayanya, dan teguh memimpikan kemerdekaan bangsanya, tetapi keduanya bukan chauvinist, apalagi alergi bergaul dengan Barat. Keduanya membedakan Barat- penjajah dengan Barat yang mengembangkan pengetahuan modern. Keduanya menentang Barat penjajah, tetapi tak pernah ragu bersahabat dengan Barat pengembang budaya pengetahuan ilmiah.

Saat tiba di Bali, Tagore terkesima mengamati masyarakat Bali dengan keunikan rupa serta warna pakaiannya. Gambar-gambar di lukisan pada dinding Goa Ajanta seperti hidup kembali di depan mata, ungkapnya lewat surat tertanggal 30 Agustus 1927.

Pada satu sisi ia kagum dengan pelestarian budaya Bali yang seperti berhasil melambat dalam mesin waktu, tetapi pada sisi lain ia sesungguhnya berharap budaya masa depan juga bertumbuh berpadu. Tagore berpendapat bahwa budaya perlu dikembangkan ke depan, bukan diawetkan mandek di masa lalu. "Masa Lalu memang hebat, tetapi Masa Lalu harus dilewati dan tugasnya memang untuk tertinggal di belakang Masa Kini, tidak boleh Masa Lalu berhenti di depan Masa Kini dan menghalangi jalan untuk mewujudkan dirinya." Ungkapan ini dikutip di artikel "Rabindranath Tagore in Indonesia" (Das Gupta, 2002).

Perjumpaan manusia Asia

Perjumpaan Tagore dan Ki Hadjar di Yogyakarta amat penting. Keduanya, yang sama-sama nation builder atau pembangun bangsa, meyakini strategi kemerdekaan bangsa melalui pendidikan. Karena itu, keduanya sama- sama membangun institusi pendidikan, yakni Visva Bharati (di Santiniketan) dan Taman Siswa (di Yogyakarta).

Kedua institusi pendidikan ini sama-sama mendasari pada kemanusiaan dan kemerdekaan. Tagore menyisipkan keterkaitannya dengan dunia dalam moto institusinya: "Di mana dunia bertemu dalam satu sarang". India wajib membagikan budaya terbaiknya bagi dunia, katanya, tetapi India juga berhak menyerap budaya terbaik dari yang lain.

Setelah pertemuan dua pendidik tersebut, kerja sama pendidikan dan kebudayaan antara Visva Bharati dan Taman Siswa berlanjut beberapa kali dengan pertukaran pengajar, walau tidak seintensif yang didambakan Tagore dan Ki Hadjar. Yang perlu dicatat pula, seorang murid Taman Siswa cabang Jakarta, Kartika Affandi (putri pelukis Affandi), melanjutkan belajar seni ke institusi Tagore tersebut.

Kecuali ke Taman Siswa, saat di Yogyakarta, Tagore juga mengunjungi institusi pendidikan perempuan Muhammadiyah dan bertemu pengampunya, Nyai Ahmad Dahlan.

Namun, perlu disayangkan, isi pembicaraan saat perjumpaan Tagore dengan para pelaku sejarah Indonesia masih belum cukup tergali. Ke depan, amat perlu ditelusuri melalui berbagai catatan, rekaman, atau surat-surat anggota delegasi Tagore saat itu. Misalnya, skolar Belanda, Arnold Bake, dan skolar, India Suniti Kumar Chatterji. Lalu, juga perlu ditelaah catatan maupun ingatan guru dan murid Taman Siswa dan keturunannya.

Perjumpaan dua pelopor pendidikan pemerdekaan 90 tahun lalu tersebut berharga bagi pemahaman sejarah pendidikan nasional sekaligus sejarah kebangsaan Indonesia dan India. Pendalaman dan kajian filosofi pendidikan dari keduanya perlu ditelusuri hari ini. Keduanya telah memelopori "pendidikan Asia" yang diangankan saat itu dan menawarkan alternatif terhadap pendidikan yang mutlak Barat.

Tagore dan Ki Hadjar sama- sama memiliki visi ke masa depan. Ini, misalnya, ditunjukkan oleh keduanya yang tak ragu menerapkan terobosan pendidikan modern yang dibangun Maria Montessori. Karena itu, penting dan layak diteliti keterkaitan gagasan pendidikan, kemanusiaan, sampai keyakinan antara tiga tokoh pendidik besar-Ki Hadjar, Tagore, dan Montessori-ini.

Dalam kunjungan di beberapa kota, Tagore bertemu dengan sejumlah tokoh kebangsaan dan bangsawan. Yang layak dicatat, mendekati saat akhir perjalanan peradaban ini, di saat pengawasan agak lengah, Tagore berjumpa dengan pegiat politik muda dan penuh semangat di Bandung, yakni Soekarno pada 27 September 1927. Ini sekitar setahun sebelum peristiwa Sumpah Pemuda. Dari situ, Tagore menyadari bahwa perjuangan kemerdekaan di subbenua India, seperti oleh Mahatma Gandhi dan Motilal Nehru (ayah PM Jawaharlal Nehru), ternyata diikuti dan disimak baik oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia. Tagore dan delegasinya sangat terkesan dengan Soekarno sebagai pemimpin muda yang menawan.

Secara nyata, perjalanan Tagore ini sebuah bentuk diplomasi ajakan pembangunan kembali persahabatan budaya Indonesia-India yang pernah sangat erat di awal sejarah. Kecuali itu, cara pandang kesetaraan budaya tanpa superioritas yang diteladankan Tagore layak direnungkan dalam perumusan diplomasi budaya di abad ke-21 ini.