Minggu, 18 Juni 2017

Nuzulul Quran

Nuzulul Quran
Komaruddin Hidayat  ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                   KORAN SINDO, 16 Juni 2017



                                                           
SETIAP bulan Ramadan kita menyaksikan dan mungkin juga mengikuti acara peringatan Nuzulul Quran, yakni berkaitan awal mula diturunkannya Alquran yang selanjutnya diwahyukan secara berangsur kepada Nabi Muhammad selama 23 tahun. Ada beberapa pendekatan terhadap peringatan Nuzulul Quran. 

Pertama, peringatan peristiwa sejarah awal mula diturunkan wahyu Alquran pada bulan Ramadhan. Tentu saja waktu itu belum ada komunitas muslim yang ramai-ramai berpuasa Ramadan. Perintah puasa dan salat pun belum turun.

Kedua, dan ini lebih penting dampaknya, yaitu doa dan harapan agar Alquran itu juga turun (nuzul) pada setiap muslim-mukmin, bukan hanya kepada diri Rasulullah. Dengan berpuasa dan menjalankan ritual secara sungguh-sungguh, semoga hati dan pikiran menjadi suci. Sehingga ayat-ayat suci yang berisi petunjuk kehidupan turun dan masuk pada bumi orang mukmin, yaitu hati dan pikirannya. Muaranya hidupnya selalu dijiwai dan dibimbing Alquran.

Suatu hari seorang sahabat bertanya pada Aisyah, istri Rasulullah: Bisakah aku diberi penjelasan singkat yang bisa aku jadikan pedoman hidup, apakah akhlak Rasulullah yang demikian agung dan mulia perilakunya? Jawab Aisyah: Akhlaquhul-quran. Akhlaknya adalah Alquran. Demikianlah, Alquran telah nuzul dan mempribadi pada diri Rasulullah.

Alquran telah jadi spirit dan pedoman hidupnya. Tentu saja banyak tema pokok Alquran yang bisa dibahas panjang lebar. Di antaranya disebutkan dalam Surat Alqalam ayat 4: Hai Muhammad, sungguh engkau memiliki akhlak yang mulia.

Tema paling pokok dalam Alquran adalah keimanan pada Allah dari hari kebangkitan. Aspek ini berakar pada keyakinan. Kita tidak bisa mengukur keyakinan seseorang. Namun aspek fundamental lain ajaran Alquran antara dua keimanan itu adalah beramal saleh dan berakhlak mulia, di mana aspek ini bisa diamati, diukur dan dirasakan oang-orang di sekitarnya.

Jadi, jika Alquran telah nuzul pada seseorang, salah satu buah dan indikasinya adalah berakhlak mulia. Akhlak mulia selalu menebarkan sifat ilahi, terutama selalu mengajak kebenaran dan kebaikan dengan penuh kasih sayang, sehingga Allah pun mengajarkan agar setiap memulai pekerjaan mesti dimulai dengan: Bismillahirahmanirrahim. Semoga semua aktivitas kita senantiasa mengambil bagian bagi penebaran kasih dan rahmat bagi sesama.

Ketika selesai melakukan pekerjaan, kita tutup dengan Alhamdulillah. Bahwa segala pujian itu hanya milik Allah. Artinya, kita jangan membanggakan diri dan jangan minta dipuji setelah menyelesaikan sebuah tugas. Ketika memulai memohon bimbingan dan rahmat dari Allah, setelah selesai bersyukur  pada Allah.

Istilah Alquran turun ke bumi, bukan bumi yang kita injak karena bumi pasti tidak akan mampu dan tidak memahami Alquran. Tetapi bumi manusia, yaitu hati dan pikiran yang mengarahkan perilaku manusia.

Inilah yang terlihat dalam sejarah, masyarakat Arab pra-Islam yang dikenal jahiliyah setelah mengenal Alquran berubah sangat drastis. Yang tadinya selalu membanggakan sukunya dan gemar berperang antarsuku, lalu berubah menjadi masyarakat yang senang bersujud pada Allah. Mereka berlomba beramal kebajikan. Tak ada yang pantas dikejar-kejar kecuali menjaga iman dan memperbanyak amal saleh.

Dengan kehadiran Alquran dan kepemimpinan Muhammad Rasulullah, padang pasir Arab yang tandus berubah menjadi pusat ilmu dan peradaban. Inilah salah satu makna dan bukti nuzulul-quran yang telah mengubah sejarah.

Tetapi sangat disayangkan, masyarakat Arab yang menjadi tempat penyemaian Islam dan menjadi sumber peradaban, hari-hari ini dikenal sebagai bangsa dan masyarakat yang penuh dengan konflik dan peperangan, mengingatkan kita pada situasi zaman pra-Islam, sebelum Alquran turun.