Selasa, 20 Juni 2017

Svetlana Alexievich

Svetlana Alexievich
Trias Kuncahyono  ;   Penulis Kolom KREDENSIAL Kompas Minggu
                                                         KOMPAS, 18 Juni 2017



                                                           
Di Gogol Center—pusat kebudayaan: gedung teater, kafe, ada toko buku, dan berbagai venue untuk pentas seni budaya—di Moskwa, Rusia, suatu hari, Svetlana Alexievich memberikan kuliah umum. Alexievich adalah penerima hadiah Nobel Sastra 2015 dan menjadi perempuan ke-14 yang mendapat hadiah Nobel sejak pertama kali diberikan pada tahun 1901. Perempuan terakhir yang menerima hadiah Nobel berasal dari Kanada, Alice Munro (2013).

Alexievich yang berdarah campuran—ayahnya berasal dari Belarus, sedangkan ibunya berasal dari Ukraina—lahir 31 Mei 1948 di Ivano-Frankovsk, Ukraina, yang ketika itu masih di bawah kekuasaan Uni Soviet. Ayahnya seorang tentara. Namun, setelah pensiun, pulang ke Belarus dan menjadi guru; ibunya juga menjadi guru.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Minsk (1967-1972) jurusan jurnalistik, Alexievich menjadi wartawan dan guru. Awalnya dia bekerja sebagai wartawan di Byaroza, wilayah Brest (Beresa) yang dekat dengan perbatasan Polandia. Lalu dia pindah ke Minsk dan bekerja di surat kabar Sel'skaja Gazeta. Karena reportasenya yang kritis terhadap kebijakan politik pemerintah, Alexievich dipaksa tinggal di luar negeri. Ia tinggal berpindah-pindah: Italia, Perancis, Jerman, dan Swedia.

Ia banyak menulis cerita pendek, esai, dan membuat reportase. Dipengaruhi oleh tradisi oral storytelling Rusia dan reportase sastra inovatif pengarang kontemporer kondang Ales Adamovich dan Artyom Borovik, ia menggabungkan jurnalisme dan sastra sebagai sarana untuk menciptakan apa yang disebutnya sebagai ”sejarah perasaan manusia”. Akan tetapi, karyanya ketika itu tidak bisa dipublikasikan karena alasan politik. Baru setelah pertengahan 1980-an, Mikhail Gorbachev menjalankan kebijakan liberalisasi perestroika, hasil karyanya bermunculan.

Salah satu bukunya yang terkenal adalah Chernobylskaya molitva: khronika budushchego atau Suara dariChernobyl: Kronik Masa Depan) yang diterbitkan tahun 1997. Buku ini mengisahkan dampak tragedi Chernobyl, berdasarkan kesaksian para korban dan saksi mata bencana pusat tenaga nuklir milik Uni Soviet itu. Buku-bukunya bercerita tentang krisis sejarah—Perang Dunia II, Perang Uni Soviet di Afganistan, bencana Chernobyl, dan runtuhnya Uni Soviet—lewat suara orang-orang kebanyakan, rakyat biasa. Dalam buku Suara dari Chernobyl, misalnya, seorang perempuan menceritakan bagaimana suaminya, seorang petugas pemadam kebakaran, akhirnya mati karena keracunan, radiasi (The New Yorker: 2015).

Di Gogol Center, Alexievich memberikan kuliah umum. Kuliah umum itu diberikan sebelum terjadi demonstrasi antikorupsi di Rusia, 12 Juni lalu. Nadezda Azhgikhina dari The Nation (14/6) menulis, Alexievich berbicara tentang kekuatan kata-kata, kekuatan martabat manusia, serta kekuatan perlawanan terhadap perbudakan dan ketakutan dalam jiwa manusia. Ia juga bicara tentang pilihan pribadi, apa yang membuat kita menjadi manusia dan membuat perbedaan dalam kehidupan politik dan kehidupan publik.

Kekuatan kata-kata. Kata-kata—buku—bisa menjadi inspirasi atau senjata pembunuh. Karena itu, Publius Ovidius Naso, yang sering disebut Ovid (43-17 SM), seorang penyair Romawi, pernah mengatakan, cave quid dicis, quando, et cui, berhati-hatilah terhadap apa yang Anda katakan dan kepada siapa. Mengapa? Sebab, kata-kata bisa menjadi senjata pembunuh, membunuh orang lain, dan membunuh orang yang mengatakannya.

Masih menurut Ovid, tutur kata menggambarkan kualitas pribadi seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang, tutur kata, perkataan, menjadi sumber perselisihan dan kejahatan. Apa yang terjadi di Qatar pada saat ini juga berangkat dari pernyataan pemimpin negeri itu (terlepas bahwa pernyataan itu telah diretas sehingga menimbulkan keguncangan dan ketegangan politik).

Dalam setiap musim kampanye pemilu, entah itu pilkada atau pemilu nasional, selalu terjadi ”hujan” kata-kata, banjir kata-kata yang tidak jarang tak terkendali dan bahkan banjir kata-kata yang berubah menjadi gelombang kampanye hitam. Di mana-mana bertebaran berita bohong, berita tanpa dasar, hujatan, makian, ujaran kebencian, hoaks, fitnah, dan hasutan.

Saat itulah, tulis Herry Priyono (BASIS: 2014), terjadi kerusakan tata krama paling elementer dalam berdemokrasi. Akibatnya, terhambur-hamburlah energi dan sumber daya yang seharusnya untuk memupuk demokrasi, yang terjadi justru menghancurkan demokrasi. Demokrasi tak lebih dari menghambur-hamburkan kata-kata sekadar untuk mencerca dan memfitnah pihak lain. Atas nama kebebasan berpendapat dan bersuara yang dijamin oleh demokrasi, kampanye hitam disebarluaskan. Urusan bangsa yang demikian besar dan penting menjadi urusan personal. Berpolitik tidak lagi untuk bonum commune, kemaslahatan masyarakat, tetapi lebih untuk kepentingan diri, kepentingan kelompok, kepentingan golongan sendiri, bahkan kepentingan keluarga.

Oleh karena kata-kata, kekhasan manusia—yang memiliki nalar, yang memiliki martabat dan keluhuran, yang memiliki bahasa, yang memiliki hati—telah membusuk. Pada saat itu, hancurlah peradaban manusia. Dan itu telah kita alami yang paling akhir dalam pilkada di DKI, dan bukan tidak mungkin, kalau kata-kata tidak dikontrol meluncur bebas dari setiap mulut, akan terjadi lagi dalam Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

Benar yang dikatakan Alexievich, kata-kata memiliki kekuatan, membangun, menginspirasi, sekaligus menghancurkan. Bahkan, jauh zaman sebelumnya, Raja Salomo bin Daud pernah mengatakan, ”Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” Kata-kata memiliki potensi untuk menghasilkan konsekuensi positif atau negatif. Kata-kata memiliki kekuatan untuk memberikan kehidupan dengan memberikan dorongan atau kejujuran atau kata-kata juga bisa menghancurkan dan membunuh lewat kebohongan dan gosip, hujatan, ujaran kebencian, dan seperti sudah disebut di atas lewat kampanye hitam dengan memanipulasi kebenaran.

Nelson Mandela, yang hampir 30 tahun mendekam di penjara, setelah dibebaskan pernah mengatakan, ”Tidak pernah menjadi kebiasaan saya untuk menggunakan kata-kata dengan mudah. Jika selama 27 tahun di penjara tidak terjadi apa pun pada diri saya, itu karena dalam kesunyian saya memahami betapa berharganya kata-kata dan bagaimana pidato yang sebenarnya akan memengaruhi kehidupan dan kematian orang.”